Senin, 08 Juni 2009

Satu peristiwa banyak hal

Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Jumat, saya mendengar informasi bahwa saudara sepupu saya mengalami kecelakaan. Informasi yang membuat saya terkejut, seakan tidak percaya. Sayapun bertanya pada beberapa orang, apakah informasi itu benar. Dan memang benar. Saya pun bergegas untuk menuju rumah sakit, dimana saudaraku di rawat.
Akhirnya sampai di rumah sakit X. Ku tanya ke penjaga, ruang saudaraku dirawat. Lalu ditunjukkannya ruang xxxx lantai 3. Disana tak kutemui warga ataupun keluarga yang disana. Tetap ku menunggu disana hampir satu jam tanpa kepastian... Lalu saya ditelfon rekan satu kampung, bahwa saudaraku telah dipindahkan di rumah sakit Y. Lalu sayapun bergegas kesana.
Tiba disana saya pun disambut dengan pertanyaan yang tidak saya duga sebelumnya.. "Darahmu apa?", kujawab B, "Ayo ikut, butuh darah B". Tanpa pikir panjang sayapun menganggukkan kepala, menyetujui untuk diambil darah. Saat itu dibutuhkan tujuh orang untuk diambil darahnya. Dan akhirnya darah yang dibutuhkan terpenuhi, lalu dioperasi. Empat jam operasi berlangsung, setelah selesai lalu masuk ruang ICU dengan kondisi yang masih tidak sadar.
Semoga kondisi saudaraku dapat pulih, dan beraktifitas kembali seperti biasa, berkehidupan dengan luar biasa.

Ada banyak hal yang dapat saya maknai dari peristiwa tersebut:
  • Kejelasan informasi. Informasi yang tidak jelas menjadikan orang melakukan sesuatu tanpa kejelasan pula. Jadi usahakan agar kita menyediakan dan mencari informasi yang jelas, agar seseorang yang membutuhkan informasi akan terbantu dari apa yang kita berikan.
  • Kita tidak tahu apa yang akan terjadi akan kehidupan di depan kita, meskipun itu hanya sepersekian detik dari saat ini. Tomorrow is a mystery. Yang hanya dapat kita lakukan adalah menyiapkan dengan 'baik' kehidupan kita saat ini.
  • Keyakinan. Beberapa minggu yang lalu saya pernah diminta untuk mendonorkan darah kepada seseorang. Permintaan itu saya terima dengan setengah hati, karena takut ini, takut itu, takut... Oleh ketakutan itulah saya tidak jadi mendonorkan darah karena fisik saya menjadi lemah, hingga saya merasa mual, lemas, berkeringat dingin, dan bahkan untuk berdiripun tidak sanggup. Namun kemarin ketika saya meng-iya-kan tanpa setengah hati, dengan penuh keyakinan akhirnya apa yang ditakutkan itu 'hilang'. Perlu direnungkan bahwa apapun yang kita lakukan dengan sepenuh hati, dengan penuh keyakinan, pasti akan terwujud.

Tidak ada komentar: