Sabtu, 01 Oktober 2011

Anak Yang Meminta

Tadi ketika mau pergi ke terminal untuk pergi ke Salatiga, ditengah jalan saya melewati seorang anak kecil yang sedang duduk di pinggir emperan taman. Tanpa diduga ia selintas ngomong, meminta uang dariku "mas njaluk duite". Sempat kaget, lah kok bisa ya, seperti bukan seorang pengemis tapi tiba-tiba saja minta uang dari orang lewat. Kasihan juga melihat anak-anak yang belum bisa menikmati masa indahnya sebagai anak-anak, harus mencari uang bagaimanapun caranya. Apakah orang tuanya mengharap untuk menjadi seorang peminta? Saya pikir tidak, kondisi yang memaksanya untuk melakukan itu. Salahkah dia melakukan itu? Bagaimana agar anak itu bisa mengenyam masa-masa indahnya? Tanggung jawab siapa? Apa yang bisa dilakukan?

Senin, 26 September 2011

Belajar Renang

Beberapa hari yang lalu untuk ketiga kalinya aku menceburkan diri dalam kubangan air jernih setinggi 250cm. Tubuhku belum mengenal air lebih jauh. Tapi aku pikir tubuhku mau untuk mengenalnya. Tidak mudah untuk bisa menyatu dengan lingkungan, karna berada di kubangan air bukan jadi bagian utamaku. Takut ketika ku berada jauh dari teman-temanku *mereka kuanggap sebagai tim SAR jika aku mengalami hal-hal diluar kemampuan.
Aku memberanikan diri untuk berkenalan dengan partikel air, bahkan ketika itu bisa membahayakan bagian tubuhku yang lain. Berada dalam posisi yang aku anggap aman *tangan bisa menjangkau pegangan besi tepi kolam. Mulai aku menikmati pengenalanku. Ternyata dia tidak sejahat yang aku kira. Aku mengapungkan diri meski beberapa kali harus segera menggapai besi pengaman itu. Tak hanya itu karena paniknya aku gak bisa mengendalikan tubuhku hingga harus berusaha menyelamatkan diri, aku terjerumus sendiri dan harus berusaha tenang untuk keluar dari kepungan itu. Berulang kali kucoba lakukan, paling tidak aku sedikit lebih mengenalnya.

Cerita tersebut adalah pengalaman saya ketika belajar berenang -belum bisa sama sekali untuk berenang. Untuk menjadi (sedikit) bisa dibutuhkan keberanian. Berani untuk mengalami kondisi buruk jika terjadi. Juga perlu strategi jika keadaan buruk terjadi, misal posisi, tindakan yang bisa segera dilakukan, mencari partner (sebagai trainer, penolong), dsb.

Jadi, lakukan apa yang bisa dilakukan, berani mencoba, lihat pengalaman, cari strategi, cari partner, dan coba lagi.

Sabtu, 13 Agustus 2011

Lihat mereka

Ini mau, beli.. Itu mau, beli.. Yang seperti itu, beli.. Enak jika membelanjakan uang yang ada, puas, barang yang diinginkan sudah berada dalam genggaman tangan. Uang hasil sendiri, untuk sendiri juga. Itupun masih saja kurang.

Tapi lihat adikmu, kakakmu, orangtuamu, saudaramu.. Lihat mereka yang ada disana.. Mereka butuh, lebih butuh dari apa yang kamu butuhkan. Kamu bersisa, mereka ngepas bahkan kurang.

Lihat orang-orang yang diemperan toko, mereka tidur beralas selembar kain atau koran, berbantal karung berisi kumpulan barang rongsok. Lihat mereka pakaian kumuh, berbaring tanpa tirai sesungguhnya. Apakah mereka pernah protes dan bertanya pada Tuhan-nya? Adilkah ini? Apakah mereka bertanya masih adakah orang yang menerimaku? Membantuku? Menjadi saudaraku? Mengupayakan aku untuk bisa mendapatkan pekerjaan, makan, minum, tempat tinggal secara layak?

Bagaimana melihat kondisi seperti itu? Masihkah kurangkah apa yang sudah didapatkan? Bisakah memberikan sedikit bagian untuk mereka? Ini tantangannya. Bagaimana?

Jumat, 01 Juli 2011

Setiap detik bermakna

Apa yang telah kita alami dalam beberapa waktu lalu (satu detik / tiga detik / satu menit / lima menit / sepuluh menit / setengah jam / dua jam / satu hari / dua hari / beberapa hari) ? Seringkali kita tidak dapat 'merekam' beberapa peristiwa yang telah dialami. Menganggap semua hal biasa, tidak ada hal yang spesial dan penting. Coba pikirkan dan renungkan kembali, apa yang terjadi dalam hidup kita ini. Bagaimana kita bisa bertemu dengan orang lain? Adakah semuanya berjalan hanya dari kemampuan kita sendiri? Atau ada satu pusat yang menjadi kekuatan kita? Bagaimana kita bisa hidup hingga saat ini? Masih bisa makan, tertawa, bahagia, atau juga lapar, menangis, putus asa. Ya..semuanya indah...sangat...sangat indah...

Keinginan (antara kemampuan, kesempatan, keberuntungan)

Pernahkah terbayang jika apa yang kita harapkan pasti akan didapatkan. Senang, sukacita, bahagia, atau apalah itu namanya pasti akan dirasakan. Namun bagaimana jika itu tidak, kecewa, putus asa, menyalahkan, atau hal lainnya pasti dirasakan pula.
Keinginan, pasti semua orang memilikinya. Keinginan (menurut saya) akan dapat diperoleh melalui beberapa faktor, salah tiganya (radha maksa ne bahasanya :D) adalah kemampuan, kesempatan, dan keberuntungan.

Kemampuan. Dulu saya pernah punya keinginan untuk menulis sesuatu yang bisa dilihat orang lain. Tulisan yang berisi topik yang saya kuasai. Paling tidak memiliki sedikit kemampuan dalam beberapa bidang yang saya senangi. Dari sedikit kemampuan ini pada akhirnya saya telah memiliki media untuk menulis. Akhirnya apa yang saya inginkan terkabul. Dan karena sudah terbiasa secara tidak sadar akreditas menjadi naik menjadi agak banyak kemampuan :). Namun bagaimana jika ada orang merasa tidak punya kemampuan sama sekali? Bohong, sekali lagi pada dasarnya manusia adalah pembelajar. Dari ketidakmampuan ini, dengan sentuhan rasa ingin bisa, maka pada akhirnya ia akan naik ke level mampu. Yang saya tekankan disini rasa ingin bisa, bagaimana mau melakukan jika tidak ada rasa senang terlebih dahulu? Jadi kembali lagi solusinya temukan kesenangan, maka kemampuan itu akan didapat.

Kesempatan. Kadang kesempatan menjadi hal yang diabaikan. Karena merasa mampu, ia tidak melihat kesempatan yang ada dan pada akhirnya hanya bisa berjalan ditempat, menikmati kemampuan hanya untuk diri sendiri. Banyak kesempatan yang bisa digunakan untuk menuangkan/menggunakan kemampuan kita, ketika bekerja, hidup bermasyarakat, lingkungan pendidikan, atau bahkan faktor dari lingkungan dunia maya sekalipun, dengan cara itu kemampuan kita bisa dinikmati juga oleh orang lain, dan mereka bisa menilai seberapa jauh kemampuan yang dimiliki. Selain itu kitapun akan mendapat informasi yang berguna (bisa juga tidak :)), menambah wawasan, cara berfikir, dan bertindak.

Keberuntungan. Faktor ini seringkali dikambingdombakan. "La wong aku orang yang beruntung je..., maleslah kalau ....", "Dia lebih beruntung dari aku, biar dia saja...". Keberuntungan tidak selamanya menjadi patokan utama dalam bertindak. Itu adalah faktor ke xxxx setelah kita berusaha. Yang terpenting gunakan kemampuan dan upayakan untuk mencapainya.

Jujur kalau mau pilih dari semua aku mau jadi orang yang beruntung :).
Tapi aku juga mau mempunyai kesempatan untuk meng-optimalkan kemampuanku agar aku beruntung dan pada akhirnya keinginanku tercapai :))).

Kamis, 20 Januari 2011

Seperempat Abad Satu Plus Plus

Mengucap syukur atas segala hal, di 26 tahun ini.
Usia yang tidak lagi muda, juga harus berpengaruh terhadap sikap, gaya hidup, pola hidup. Mencermati pengalaman yang lampau, banyak sekali yang harus dipelajari, ditingkatkan, bahkan juga diubah.
Ada kata "menyesal", tapi apa guna harus disesali. Ada kata "bangga" yang berarti harus lebih ditingkatkan.
Masih panjang, ini hanya sejengkal dari apa yang menjadi impianku, masih jauh dan masih tinggi tujuanku, tapi ku harus meraih itu. Puas??? Belum!!! Masih, dan akan terus.
Ada kelelahan disaat-saat terakhir, tapi apakah harus berhenti. "Tidak! Itu hanya letih 'sementara'", kataku. Berjuang sampai titik darah penghabisan (kayak pejuang aja). Tapi benar aku adalah pejuang. Pejuang yang akan memberikan kemerdekaan. Tidak hanya aku sendiri, tapi orang lain juga. Mereka juga harus merasakan kemerdekaan itu. Biar tidak sia-sia perjuanganku.
Minum vitamin, makan banyak, sering ketawa, dan berlatih keras (haha..), adalah resep yang paling manjur. Tapi ada yang sering terlupakan, yang lebih kuat dari semua itu. Menghadirkan 'Sang Penolong' dalam setiap perjuanganku. Dia yang berada didepanku, bahkan yang menumpas segala musuhku hingga aku sampai pada tujuan. Haha...menanglah diriku.