Minggu, 30 September 2012

Sedikit Kecewa dengan Layanan Kereta Pramex

Madiun Jaya (Manja) AC
Saya sebagai pelanggan setia pramex (Prambanan Express) Jogja-Solo (paling tidak satu bulan sekali) merasa kecewa dengan layanan yang diberikan oleh dinas perkeretaapian. Bagaimana tidak jadwal pramex yang dulu cukup banyak sekarang beberapa jadwal keberangkatan ditiadakan. Beberapa jadwal keberangkatan digantikan dengan adanya kereta manja (Madiun Jaya AC) yang harganya dua kali lipat dari harga tiket pramex. Di awal-awal memang kereta manja cukup nyaman, karena setiap penumpang pasti akan mendapat tempat duduk sesuai nomor kursi pada tiket yang telah dibeli, namun untuk saat ini kereta manja pun terdapat tiket berdiri (tidak dapat tempat duduk) dengan harga normal dua puluh ribu rupiah. Saya juga sempat merasakan dapat tiket berdiri.

Menurut saya kereta manja sekarang tidak ada bedanya dengan pramex, adanya AC hanya sebuah label saja, tidak ada bedanya jika di dalam tetap saja berdiri. Sekarangpun pengguna pramex semakin banyak dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Untuk jadwal-jadwal tertentu kreta pramex selalu dipadati penumpang, bahkan tidak ada ruang kosong diantara kursi penumpang. Lebih parah lagi sudah tahu penuh tetap saja ada kreta makanan yang lewat, sangat-sangat membuat tidak nyaman penumpang.

Kereta api menurutku transportasi umum nomor satu yang bisa digunakan. Namun jika seperti ini terus, penumpang bisa kecewa. Saya juga tidak tahu bagaimana cara mengatasi melonjaknya penumpang, ditambah jadwal lagi mungkin???

------------------------

Sebagai tambahan, saya sertakan jadwal KA Pramex dari stasiun Lempuyangan s.d. stasiun Balapan atau sebaliknya, berlaku mulai tanggal 20 Juli 2012  
-- maaf kalau gambar kurang jelas :) --

Jadwal Prameks dan Manja

Jumat, 28 September 2012

Pijat Keber


Di daerah solo ada jasa pemijatan di emper pinggiran toko. Biasa mereka buka praktek pukul 18.00 WIB dengan cara memasang tenda sementara yang sederhana, ya sebatas bisa digunakan untuk membaringkan tubuh dan ruang untuk memijat pasien. Beberapa diantaranya memberikan tulisan di tendanya 'ahli pijat syaraf, menghilangkan capek, letih lesu, dsb', namun ada juga yang tidak. Ternyata tidak hanya kaum pria (bapak) saja yang membuka praktek, ternyata kaum wanita (ibu) pun ada yang membuka praktek pemijatan seperti ini.

Ha...
Karena penasaran dengan kualitas pemijatan itu, akhirnya saya mencobanya ditemani sahabat saya. Pertama kami bertanya harga, "Pak harganya berapa?".  "Tiga puluh ribu", jawabnya. Kami kemudian menawarnya, "Gimana kalau dua puluh lima ribu Pak?". "Ah sudah biasanya mas, masak pakai tawar menawar.", jawab bapak pemijat itu. Ehhmmm setelah pikir beberapa saat, akhirnya saya mengiyakan "Ya sudahlah mau.", kemudian saya pun mencobanya meskipun tidak dengan harga yang cocok.

Akhirnya sestsettstestesesstet...... dipijatnyalah saya, ha....
Bapak itu juga bercerita tentang ibu pemijat lain yang berada di depan tempat praktiknya yang memberikan harga murah. "Lah kalau simbok-simbok paling cuma mak nyet... mak nyet...nyet... sudah. La kalau itu dua puluh ribu saja sudah mau."
Sembari dipijat saya mendengar Bapak itu berbicara, meskipun dalam hati saya pun tidak puas dengan hasil pijatannya. "Kuat si kuat Pak (dibanding ibuk-ibuk) tapi gak gini-gini juga kaleee.", batinku. Ya memang pijatannya mantap dan kuat tapi bapak ini tidak tahu bagian-bagian yang sakit. Saya juga sempat menguji kemampuan secara teori, "Pak kok dipijat kakinya bawah sakit, padahal yang lain tidak Pak?". Saya pikir bapak ini akan menjelaskan secara rinci penyebab sakit pada bagian kaki yang dipijat. Ternyata dengan santai bapak itu menjawab, "Ah itu mah biasa.". "Asem...asem...", batinku, "Bapak ini yang penting modal tangan dan handbody saja sudah bisa buka praktek pemijatan, yang penting kerasa mantap."

Secara hitung-hitungan bisnis, bapak ini menerima uang tiga puluh ribu rupiah per pasien. Kalau dalam satu malam saja bapak ini menerima pasien minimal tiga saja, berarti dia sudah memperoleh sembilan puluh ribu per malam (baca hanya tiga jam). Menggiurkan bukan, bagaimana kalau kerja sampingan jadi tukang pijat, modal kekuatan tangan dan pelicin saja :D (just kidding)

Hahhh.... ya begitulah pengalaman saya, konyol juga... Tapi paling tidak akhirnya saya bisa merasakan pijat kembali setelah sekian lama tidak pernah dipijat, meskipun sangat-sangat tidak memuaskan :)
Dulu waktu masih tinggal bersama orang tua, saya kerap kali dipijat oleh tetangga saya yang juga profesinya sebagai pemijat. Lebih enak dan nyaman dibandingkan dengan yang ini, ha...
Lain kali bisa coba pijat oleh wanita cantik aja yang ada di panti pijat kelas atas, hahahaha.a.....


Catatan (20131105): Pijat keber seharusnya pijat geber. Geber adalah kain yang dibentangkan untuk menutupi sesuatu.
Dalam KBBI:  ge·ber Jw n tirai atau layar pd pentas pertunjukan sandiwara dsb.

Update 5 November 2013
Baca juga: Pijat Lagi

Rabu, 19 September 2012

Belajar Cinta

Aku pernah beranggapan bahwa cinta adalah sesuatu yang sepele, semua pasti dengan mudah memiliki dan bisa melakukannya. Anggapan itu aku pegang sampai beberapa waktu hingga aku sadar bahwa itu salah. Cinta adalah sebuah proses, cinta juga butuh belajar, cinta juga adalah sebuah pilihan. Mencintai dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan dan dengan segenap akal budi. Kemudian mengekspresikannya dalam pikiran, perkataan, juga dalam perbuatan.

Selasa, 11 September 2012

Saya Tidak Marah

Beberapa hari yang lalu, ketika selesai mengikuti suatu acara saya menunggu di jemput oleh saudara saya. Saya bersedia menunggu karena saat itu beliau berkata sanggup untuk menjemput dan mengantar saya untuk kembali. Ketika saya hubungi kembali beliau berkata "Bisa, ya nanti jam satu", saya setuju karena saat itu jam jadwal keberangkatan kereta pukul setengah dua siang. Akhirnya saya menunggu beberapa waktu di warung internet, sembari mencari beberapa resource. Setelah saya hubungi kembali ternyata beliau akan bisa menjemput jam setengah dua padahal saat itu sudah jam satu lebih seperempat. Saya berusaha tidak marah, meskipun saat itu merasa jengkel sekali. Akhirnya saya memutuskan tidak menunggunya dan pulang sendiri.

Saya bersyukur, saya bisa meredam emosi, meskipun saya memutuskan untuk pulang sendiri. Hal ini saya lakukan supaya saya mengajarkan beliau juga untuk menghargai orang lain. Saya tidak marah, saya memaklumi, karena dia juga pada saat itu sedang bekerja. Saya tidak marah, saya hanya mau mengajarkan hal baik. Saya tidak marah, karena saya mengasihinya.

Minggu, 09 September 2012

Rotinya Mas

Ketika selesai mengikuti acara, saya menunggu jemputan di salah satu tempat duduk di dekat tempat parkir. Tiba-tiba ada dua ibu yang hendak lewat di depanku, "Permisi Mas...", katanya. "Iya mari Ibu...", jawabku. Ternyata kedua ibu itu hendak duduk di samping bangku dekat saya. Eee.. tiba-tiba saja mereka menawarkan makanan ke saya, "Mas mau roti?". Tidak pikir panjang lagi saya menganggukkan kepala dan langsung saja menerima roti itu, "Terima kasih Bu..", jawabku.

Ternyata masih ada orang baik di dunia ini :D
Alangkah indahnya hidup berbagi, bahkan dengan orang yang belum pernah dikenal sekalipun.

Etis???

Jumat kemarin, ketika saya sedang naik kereta dalam perjalanan pulang ke kampung halaman, saya bertemu dengan seorang pria muda. Sebelum ngobrol dengan saya, saya sempat mengamati gerak-geriknya. Saat itu dia mempersilahkan seorang pemudi yang ketika itu dalam posisi berdiri karena tidak kebagian tempat duduk di dalam kreta. Saya pikir pemuda ini mempersilahkan duduk karna dia adalah seorang perempuan muda yang cantik.

Tidak berapa lama dia mendekati saya dan sejenak berbicara kepada saya. Ya pertanyaan umum, mau pulang atau sedang mau berangkat, rumahnya mana, kerja dimana, dulu sekolah dimana, dan blablablabla...
Tiba-tiba dia juga berkata kepada saya, "Coba seandainya pihak perkeretaapian memberlakukan semua penumpang dilarang untuk membuka gadget ketika dalam perjalanan?". "Lo emang kenapa", tanyaku. "Iya tidak etis saja. Coba saja seandainya mereka tidak membuka gadgetnya, dan memperhatikan sekelilingnya. Alangkah indahnya hidup ini. Bisa menegur orang yang ada di samping tempat duduk, menyapa, bertanya, berbagi informasi, bahkan mungkin juga bercanda. Manusia tidak hanya memenuhi kepentingan dirinya sendiri tetapi juga orang lain, siapa tau dia adalah riski bagi kita, atau justru kita yang jadi riski buat mereka".

Ya dari pertemuan ini saya bisa belajar dari pemuda ini, belajar untuk tidak mementingkan diri sendiri, tetapi juga meperhatikan keadaan sekitar, sehingga bisa menjadi berkat bagi orang lain.