Jumat, 28 September 2012

Pijat Keber


Di daerah solo ada jasa pemijatan di emper pinggiran toko. Biasa mereka buka praktek pukul 18.00 WIB dengan cara memasang tenda sementara yang sederhana, ya sebatas bisa digunakan untuk membaringkan tubuh dan ruang untuk memijat pasien. Beberapa diantaranya memberikan tulisan di tendanya 'ahli pijat syaraf, menghilangkan capek, letih lesu, dsb', namun ada juga yang tidak. Ternyata tidak hanya kaum pria (bapak) saja yang membuka praktek, ternyata kaum wanita (ibu) pun ada yang membuka praktek pemijatan seperti ini.

Ha...
Karena penasaran dengan kualitas pemijatan itu, akhirnya saya mencobanya ditemani sahabat saya. Pertama kami bertanya harga, "Pak harganya berapa?".  "Tiga puluh ribu", jawabnya. Kami kemudian menawarnya, "Gimana kalau dua puluh lima ribu Pak?". "Ah sudah biasanya mas, masak pakai tawar menawar.", jawab bapak pemijat itu. Ehhmmm setelah pikir beberapa saat, akhirnya saya mengiyakan "Ya sudahlah mau.", kemudian saya pun mencobanya meskipun tidak dengan harga yang cocok.

Akhirnya sestsettstestesesstet...... dipijatnyalah saya, ha....
Bapak itu juga bercerita tentang ibu pemijat lain yang berada di depan tempat praktiknya yang memberikan harga murah. "Lah kalau simbok-simbok paling cuma mak nyet... mak nyet...nyet... sudah. La kalau itu dua puluh ribu saja sudah mau."
Sembari dipijat saya mendengar Bapak itu berbicara, meskipun dalam hati saya pun tidak puas dengan hasil pijatannya. "Kuat si kuat Pak (dibanding ibuk-ibuk) tapi gak gini-gini juga kaleee.", batinku. Ya memang pijatannya mantap dan kuat tapi bapak ini tidak tahu bagian-bagian yang sakit. Saya juga sempat menguji kemampuan secara teori, "Pak kok dipijat kakinya bawah sakit, padahal yang lain tidak Pak?". Saya pikir bapak ini akan menjelaskan secara rinci penyebab sakit pada bagian kaki yang dipijat. Ternyata dengan santai bapak itu menjawab, "Ah itu mah biasa.". "Asem...asem...", batinku, "Bapak ini yang penting modal tangan dan handbody saja sudah bisa buka praktek pemijatan, yang penting kerasa mantap."

Secara hitung-hitungan bisnis, bapak ini menerima uang tiga puluh ribu rupiah per pasien. Kalau dalam satu malam saja bapak ini menerima pasien minimal tiga saja, berarti dia sudah memperoleh sembilan puluh ribu per malam (baca hanya tiga jam). Menggiurkan bukan, bagaimana kalau kerja sampingan jadi tukang pijat, modal kekuatan tangan dan pelicin saja :D (just kidding)

Hahhh.... ya begitulah pengalaman saya, konyol juga... Tapi paling tidak akhirnya saya bisa merasakan pijat kembali setelah sekian lama tidak pernah dipijat, meskipun sangat-sangat tidak memuaskan :)
Dulu waktu masih tinggal bersama orang tua, saya kerap kali dipijat oleh tetangga saya yang juga profesinya sebagai pemijat. Lebih enak dan nyaman dibandingkan dengan yang ini, ha...
Lain kali bisa coba pijat oleh wanita cantik aja yang ada di panti pijat kelas atas, hahahaha.a.....


Catatan (20131105): Pijat keber seharusnya pijat geber. Geber adalah kain yang dibentangkan untuk menutupi sesuatu.
Dalam KBBI:  ge·ber Jw n tirai atau layar pd pentas pertunjukan sandiwara dsb.

Update 5 November 2013
Baca juga: Pijat Lagi

Tidak ada komentar: