Minggu, 28 Oktober 2012

79 KM

Terasa sudah biasa melakukan perjalanan jarak jauh melebihi lima puluh kilometer. Jogja (rumah) s.d. Solo (kos) menempuh jarak 79 km. Secara matematis jika jarak tempuh 79 km dan dilaju dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam, maka waktu yang ditempuh adalah 1,32 jam. Secara riil perhitungan matematis bisa dianggap tidak berlaku, karena harus melalui beberapa hambatan misal kemacetan, berhenti karena lampu lalu lintas sehingga waktu yang dilalui akan bertambah lama. Perjalanan yang saya tempuh tadi memakan waktu kira-kira 2 jam, padahal ketika berada di jalan yang baik saya akan memutar kecepatan hingga 70-85 km/jam, hanya saja keramaian jalan menghambat laju kendaraan.

Pada akhirnya, sebenarnya, kesimpulannya :-) saya menikmati perjalanan menggunakan kendaraan pribadi. --ga nyambung--




Jogja 27 Oktober Malam

Menjelang akhir bulan Oktober saya pulang Jogja, meskipun uang yang didompet hanya dua lembar saja :) Sebenarnya saya tidak ada ada rencana untuk pulang pada tanggal 27 kemarin, hanya saja saudara kebetulan berkunjung ke Jogja jadi saya berniat untuk bertemu meskipun hanya sebentar. Selain itu beberapa hari yang lalu juga, saya mendapat kiriman SMS untuk mengambil surat jalan kendaraan resmi yang dikeluarkan samsat, jadi agak sedikit lega karena sebelumnya saya hanya membawa surat jalan yang dikeluarkan dari dealer.

Tidak tahu kenapa beberapa waktu ini saya senang sekali untuk mencari dan mendokumentasikan tempat-tempat ataupun event-event yang menarik. Karena kemarin malam ada di Jogja, saya mempunyai pikiran untuk pergi ke kota melihat suasana malam di titik 0 km, dan daerah sekitarnya.

Aje gile... Padat sekali di titik 0 km, orang berjubel, kendaraan berlalulalang. Sepertinya banyak turis lokal yang berkunjung ke kota Jogja, dan kebanyakan adalah orang-orang muda yang masih bersekolah. Kebetulan juga hari itu adalah Idul Adha, sempat ada takbir keliling dengan karakter menyerupai pangeran Diponegoro, sehingga membuat jalan makin padat merayap-rayap :-)



Setelah melewati jalan Malioboro saya berkeinginan pula untuk melihat alun-alun utara. Ternyata saat itu juga digelar pasar malam, dan mungkin juga konser musik karena ada panggung musik yang masih kosong di dalam lapangan, kurang tahu juga acara musik apa yang akan digelar. Terlihat juga banyak kendaraan motor yang berada di tengah lapangan yang juga digunakan untuk menjalin kasih maupun sekedar menjalin keakraban bersama sahabat.



Begitulah sekilas info ketika berkunjung ke Jogja dalam satu malam. Jogja masih istimewa, terbukti banyak pelancong yang berkunjung ke Jogja, menikmati malam bersama sahabat dan orang-orang terkasih, mengisi waktu berlibur dalam canda dan suka.




Jumat, 26 Oktober 2012

Refreshing Sejenak Ke Taman Balekambang


Taman Balekambang
Tadi siang kurang lebih pukul 14.15 WIB saya meluangkan waktu sejenak untuk berkunjung ke Taman Balekambang, Surakarta, Jawa Tengah, lokasinya tidak jauh dari stadion Manahan Solo. Ini untuk ketiga kalinya (kalau tidak salah) berkunjung ke taman ini. Kali ini bertepatan juga dengan hari ulang tahun Taman Balekambang yang ke-91, juga digelar pasar seni selama empat hari mulai tanggal 25-28 Oktober 2012.

Mungkin saya kurang beruntung ya :) karena siang tadi ketika berkunjung tidak banyak barang / pertunjukan seni yang dipertontonkan. Hanya beberapa kios saja yang masih buka dan hanya beberapa 'barang seni' yang terlihat. Saya hanya lihat sambil jalan langsung melewati kios dan menuju ke taman air. Ada beberapa orang yang sedang mancing berjejer di taman, mungkin saat itu ada perlombaan memancing. Ada juga perahu air (sepertinya kurang tepat dengan nama ini) yang berjejer di tepi kolam menunggu pengunjung untuk menaiki kendaraan ini mengitari kolam taman Partini Tuin.

Setelah berhenti sejenak di taman air ini, kemudian saya kembali ke lokasi depan taman namun melewati jalur yang berbeda. Kali ini saya melihat rusa yang katanya juga binatang khas Taman Balekambang dan juga beberapa ayam kalkun, lucu juga :)

Akhirnya saya berada di depan taman, dan saya duduk di pinggir patung Partinah Bosch. Saya juga lihat -dalam rangkaian acara ini- ada 'tempat mainan tradisional', 'egrang' begitu saya menyebut mainan ini dikampung saya. Ada beberapa orang yang yang mencoba menaiki dua bambu untuk dua kaki dan menjalankannya. Mengingatkan saya dulu waktu masih kecil  pernah membuat mainan ini dan berlomba dengan teman-teman untuk beradu kecepatan.

Setelah melihat semua saya kembali pulang menuju tempat parkir, namun saya melihat ada papan informasi sejarah Taman Balekambang:
Sejarah Taman Balekambang
" Taman Tanda Cinta Orang Tua "
 Taman Balekambang yang memiliki nama asli Partini Tuin dan Partinah Bosch, dibangun oleh KGPAA Mangkunegoro VII, pada 26 Okbtober 1921 sebagai tanda cinta kepada kedua putri beliau.
Itulah sebabnya pada awal taman ini dibagi menjadi dua area. Area pertama diberi nama Partini Tuin yang berarti Taman Air Partini. Partini adalah putri tertua KGPAA Mangkunegoro VII.
Area kedua dinamakan Partinah Bosch yang berarti Hutan Kota Partinah. Kedua taman inilah yang kemudian dikenal sebagai Taman Balekambang.

Sejenak ber-refreshing, cukup menyenangkan :)


Partini TuinPartinah Bosch

Perahu AirPasar Seni

Pasar SeniMainan Tradisional Egrang

Minggu, 21 Oktober 2012

Ngamen Lagu Rohani: Strategi Bisnis?

Kemarin malam saya bersama teman-teman makan di tempat makan yang berada pada pinggir jalan kota. Sebelum makanan datang kami ngobrol bersama, berdiskusi tentang pekerjaan dan dampaknya bagi masyarakat :-), ketika kami ngobrol tidak lama kami didatangi beberapa peminta dan penyanyi jalanan.

Ada yang beda dan mungkin juga baru pertama kalinya saya mendengar penyanyi jalanan membawakan lagu dengan nyanyian rohani. Bagi kami ini sesuatu yang berbeda dan kami pikir ini suatu bentuk kesaksian bagi para penyanyi jalanan. Kami saling tengok, dan teman saya berkata "Lah ini...", lalu teman saya merogoh koceknya, membuka dompet, dan mengambil doku untuk diberikan.

Menurut kesaksian beberapa teman saya, mereka ada yang pernah juga melihat para penyanyi jalanan menyanyikan lagu rohani di beberapa tempat makan di kota besar. Tidak tanggung-tanggung pendengar memberikan 'penghargaan' yang cukup besar dalam setiap 'konsernya', dan katanya jika ditotal hasil yang didapatkan dalam satu hari hampir sama dengan setengah gaji dari karyawan kantor dalam satu bulan.

Hmmm inikah strategi bisnis baru??? Orang akan lebih tertarik jika yang disampaikan adalah hal-hal yang berkaitan dengan spiritualitas atau paling tidak 'genre' yang disuka?? Atau karena kami orang yang tertarik dengan hal spriritualitas sehingga kami langsung terpesona??? Pastinya mereka tahu 'pasar', tahu apa yang dimau konsumen. Harapan kami mereka tidak hanya 'demi pasar' tetapi membawa kesaksian dalam dirinya.

Jumat, 19 Oktober 2012

Hello World!

Profesi saya hingga sekarang adalah sebagai programmer. Membaca kalimat "Hello World!" adalah hal yang sangat tidak asing. Kalimat ini sering muncul ketika memelajari bahasa pemrograman apapun. Memunculkan kalimat "Hello World!" selalu diajarkan pertama kali. Simpel dan sangat mudah, paling tidak mengasumsikan bahwa belajar bahasa pemrograman hal yang mudah dan menyenangkan :-) Ternyata kalimat "Hello World!" tidak hanya muncul dalam bahasa pemrograman saja, sepertinya hal yang berkaitan dengan komputer akan menggunakan kalimat ini pada awal pembuatan, contoh saja media blog, di awal post biasanya akan ada artikel yang berjudul "Hello World!".

Sebagai programmer, jujur saya tidak bisa 'hidup' hanya dengan indahnya sintaks-sintaks bahasa pemrograman ataupun mesin (baca:komputer) yang selalu setia menemani sepanjang waktu. Meskipun mesin yang saya punya selalu menjadi sahabat setia bahkan kekasih tercinta yang selalu menemani di kala duka maupun suka, namun semua tidak bisa tergantikan dengan yang namanya 'real life'. "Hello World!" mengingatkan saya juga untuk menyapa dunia, menyapa negara tercinta, menyapa kota tercinta, menyapa masyarakat, menyapa keluarga, menyapa orang-orang terdekat. Masih ada orang-orang yang butuh untuk diperhatikan, dicinta, dikasihi.

Just wanna say 'hello'. "Hello World!".
-With love-

Selasa, 16 Oktober 2012

Touring Refreshing, Candi Gedong Songo

Driving
Pada tulisan sebelumnya, saya pernah bercerita tentang kendaraan baru yang saya miliki. Untuk kedua kalinya Immanuelo dibawa touring ke luar kota, Solo-Salatiga (sebelumnya Jogja-Solo). Namun tidak hanya dikota ini saja, perjalanan dilanjutkan ke tempat wisata yakni Candi Gedong Songo yang terletak di daerah Bandungan, Semarang, Jawa Tengah.

Kali ini wisata dadakan, karena tujuan wisata baru ditetapkan ketika berada di Salatiga, itupun menggunakan fasilitas pencarian Google, dengan kata kunci 'tempat wisata salatiga'. Dan akhirnya menemukan tempat yang indah, sebuah candi yang terletak di lereng pegunungan, Candi Gedong Songo.

Saya beserta adik saya akhirnya menuju tempat itu. Dengan Immanuelo saya menikmati perjalanan ini, melewati jalan yang berkelok, naik dan turun. Menyenangkan sekali berkendara melewati jalan seperti ini, bermain gigi persneling, bermain gas naik turun pula, dan juga mendahului kendaraan-kendaraan lainnya seraya seorang rider.

Setelah perjalanan kurang lebih 75menit dari kota Salatiga, akhirnya kamipun sampai di Candi Gedong Songo. Wah indah sekali pemandangannya, asri, dan sejuk. Ternyata lokasi candi yang akan dikunjungi tidak berada pada tempat yang sama. Semuanya terpisah-pisah jauh dari yang paling bawah hingga atas, semuanya berjumlah lima candi.

Baru sampai diarea wisata candi, kami langsung ditawari untuk naik kuda. Ternyata di tempat ini ada penyewaan jasa kuda untuk bisa melalui semua candi tanpa harus berlelah-lelah berjalan. Dari sinipun sudah terpikir kalau lokasi candi terakhir (Candi V) pasti jauh sekali. Namun kami tetap berjalan karena disinilah letak kenikmatannya :D Bekerja keras dengan tenaga sendiri untuk bisa sampai tujuan.

Kami pun berjalan seperti layaknya ninja hatori, mendaki gunung lewati lembah, begitulah kira-kira, karena memang benar untuk mencapai lokasi candi berikutnya harus melewati jalan yang naik, dan kadang turun. Namun jalan untuk dilewati sudah sangat baik, sehingga sangat nyaman bagi pejalan kaki :)

Dari keseluruhan candi yang telah dikunjungi, semua candi utama memiliki kemiripan bentuk. Jadi misalkan ditanya candi yang keberapa kemungkinan saya akan sulit menjawab, kecuali jika ditunjukkan semua bentuk candi (termasuk lokasi dan batu-batu lain).

Secara keseluruhan saya sangat menikmati berada di tempat wisata ini. Mengamati benda bersejarah yang ada di Indonesia, menyegarkan mata dengan indahnya pemandangan, menghirup udara yang begitu segar, menyegarkan badan dengan berjalan kaki. Luar biasa indahnya ciptaan Tuhan. Terima kasih Tuhan atas karya-Mu yang luar biasa.

Gerbang Dalam Candi

Taman Candi

Candi IV

Kuda




Selasa, 09 Oktober 2012

Selamat Datang Immanuelo

Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis kekecewaan dengan pramex (lihat tulisan sebelumnya). Namun dengan kekecewaan tersebut lantas saya membanting stir dengan memakai kendaraan yang lain? Tidak. Sebenarnya saya masih menikmati alat transportasi yang satu ini, meskipun sekarang tidak senyaman dulu. Hanya dengan waktu satu jam saja sudah sampai ditujuan, bandingkan saja jika harus naik bis atau kendaraan darat lainnya.

Immanuelo
Immanuelo Di Gelap Malam
O ya perlu diketahui bahwasannya sekarang saya sudah memiliki kendaraan bermotor roda dua sebagai sarana transportasi saya, yang saya beli di Jogja, dan kemungkinan juga akan menggantikan pramex sebagai sarana transportasi dari Solo ke Jogja atau sebaliknya :)
Bukan karena kekecewaan seperti yang sudah disebutkan diatas, tetapi ini adalah rencana saya untuk memiliki kendaraan bermotor pribadi sejak beberapa bulan terakhir ini. Keinginan untuk memiliki karena terdorong untuk mendapat pengalaman lebih di daerah Solo dan sekitarnya, paling tidak mengetahui jalan-jalan di daerah dimana saya tinggal :)
Sebelumnya juga saya memiliki sepeda onthel yang saya pakai untuk berkeliling kota Solo, namun karena malas dan dengan alasan capek atau panas disiang hari, bersepeda akhirnya jarang sekali dilakukan, karena juga tidak ada teman lagi untuk bersepeda.

'Immanuelo', saya kira layak untuk saya panggil motor yang saya punya ini. 'Immanuelo' berasal dari kata 'Immanuel' yang berarti Tuhan beserta kita, huruf 'o' terakhir menandakan jenis kelamin pria (biar keliatan jantan, ha..). Harapannya siapapun orang yang menaiki motor ini selalu diingatkan bahwa Tuhan selalu beserta dimanapun berada, bahkan dalam perjalanan sekalipun.

Immanuelo si Yamaha Jupiter Z1 putih, semoga bisa menolongku 'berakselerasi mengarungi hidup', supaya hidup lebih hidup.

Kamis, 04 Oktober 2012

Tukang Sayur Gaul

Pagi hari ketika saya berangkat ke kantor, saya beberapa kali menjumpai tukang sayur keliling yang menjajakan dagangannya ke ibu-ibu rumah tangga. Ada yang beda dengan tukang sayur biasanya, kali ini yang berjualan adalah pria muda dengan membawa motor laki keluaran baru (dua atau tiga tahun terakhir). Saya juga mendengar bagaimana dia menjajakan dagangannya dengan suara lantang tapi khas. Gayanya menawarkan dagangannya ke ibu-ibu, termasuk cara berkomunikasinya. Dengan caranya yang demikian, ternyata membuat para ibu rumah tangga lebih tertarik untuk membelinya.

Saya melihat pendekatan tukang sayur dalam menjajakan dagangannya. Beliau tidak sekedar menjual dagangan dengan sarana apa adanya, tetapi ada apanya :) Beliau memanfaatkan media guna mendapatkan hasil yang maksimal. Patut ditiru untuk setiap orang yang akan membuka usaha (bahkan yang tidak memunyai usaha sendiri a.k.a karyawan). 'Beda', saya pikir inilah kuncinya, kreatif dan inovatif.