Minggu, 29 September 2013

Tela Telo

Sebagai warga pujakesuma (putra Jawa kelahiran Sumatera) yang tinggal dijawa, ada banyak kata baru yang dulu terasa asing didengar, seiring berjalannya waktu pada akhirnya menjadi terbiasa dengan kata tersebut. Namun hal yang masih terasa janggal ditelinga adalah tentang tela (baca:telo). Ada jenis telo yang seharusnya tidak dikategorikan sebagai jenis ketela atau umbi-umbian.

Beberapa jenis nama telo yang saya kenal di Jogja diantaranya:
  • telo jenderal atau dalam bahasa Indonesia ketela pohon atau singkong, 
  • telo pendem atau ubi jalar atau ketela rambat,
  • telo gantung atau pepaya muda
  • ... (mungkin masih ada yang lain lagi) ...
Nah yang terakhir telo gantung atau pepaya tidak termasuk dalam kategori umbi-umbian.

Berikut definisi umbi menurut KBBI:
  1. akar yg menjadi besar dan berisi (wortel, ketela, dsb): wortel adalah sayuran yg termasuk kelompok --;
  2. pangkal batang yg menjadi besar dan berisi yg dapat dimakan (spt talas, keladi);
  3. pangkal batang pohon berdaun tunggal (spt pd kelapa dan pisang);
  4. pokok akar (dr batang) yg lurus menghunjam ke dl tanah; akar umbi;
  5. bagian pasak (pancang, tiang, dsb) yg tertanam di tanah;
Definisi lain dari wikipedia: umbi adalah organ tumbuhan yang mengalami perubahan ukuran dan bentuk ("pembengkakan") sebagai akibat perubahan fungsinya. Perubahan ini berakibat pula pada perubahan anatominya. Organ yang membentuk umbi terutama batang, akar, atau modifikasinya. Hanya sedikit kelompok tumbuhan yang membentuk umbi dengan melibatkan daunnya.

Berikut daftar yang termasuk kategori umbi-umbian: Bengkuang, Bira, Dahlia, Gadung, Ganyong, Garut (tumbuhan), Gembili, Gembolo, Iles-iles, Kecipir, Kentang, Kentang hitam, Ketela pohon / Singkong, Ketela rambat / Ubi jalar, Konnyaku, Suweg, Talas, Taro, Ubi jalar, Ubi kelapa, Uwi, Wortel.

Dari definisi diatas jelas sekali pepaya tidak termasuk kategori umbi. Tidak tahu mengapa disebut telo juga, mungkin karena bentuknya seperti telo ya :).  Tak apalah setiap daerah memiliki nama unik tersendiri untuk berbagai hal tidak hanya telo. Tapi kalau saya menyebut telo saja masuk kategori yang mana ya?? Hee.. :)

Saya juga melakukan pencarian di internet berbagai nama daerah untuk telo, kok tidak masuk daftar ya, he.. Berikut perbandingan nama dari berbagai daerah yang saya temukan
  • Singkong, Ketela pohon (Manihot utilissima)
    Sumatera: ubi kayu,
    Jawa: pohong, budin,
    Sunda: sampek, boled, kasapen
    Papua: kaspe, pangala
    Aceh: ubi kayee
    Madura: tela belada
    Makassar: lame kayu
    dll..
  • Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.)
    Lampunt: Setilo
    Aceh: gadong
    Batak: gadong enjolor
    Madura: telo
    Bali: kaselo
    Sunda: hui boiet,
    Jawa Tengah: ketela rambat
    Dayak: katila,
    Sumbawa: katabang
    Bima: uwi
    Makasar: lame jawa
    Ambon: patatas
    Ternate: ima
    dll..
  • Pepaya (Carica papaya L.)
    Jawa: gandul, betik, kates, gantung
    Sunda: gedang
    dll..
Hanya sebatas mengobati rasa penasaran tentang telo ... Btw, saya suka telo juga loo... :)

Main Egrang Dulu

(sekali lagi) Masa anak-anak merupakan masa yang indah untuk dikenang, banyak hal-hal mengesankan yang mungkin tidak bisa atau belum tentu bisa dialami orang-orang saat ini. Perkembangan teknologi menjadi salah satu faktor pemicu hilangnya nilai-nilai budaya dan sosial -- dampak negatif perkembangan teknologi.

Masa menyenangkan yang saya alami saat itu adalah kesempatan bermain bersama teman-teman kampung. Salah satu permainan tradisional yang masih sempat saya nikmati adalah bermain egrang. Egrang adalah tongkat dari bambu yang diberi pijakan pada bagian (mendekati) ujung bawah tongkat. Seorang harus bisa menaiki pijakan sambil berjalan tanpa terjatuh, tangan yang memegang tongkat diatas difungsikan sebagai kemudi. Permainan ini akan sangat menyenangkan jika dimainkan bersama-sama untuk dilombakan, yaitu berusaha mencapai garis akhir tercepat. Namun saat itu (sepertinya) saya lebih suka jika hanya digunakan untuk berjalan-jalan saja.

Saat ini sudah jarang ditemukan permainan egrang atau permainan tradisional lainnya, pada event tertentu saja beberapa permainan 'diadakan'. Bersyukur sekali masih banyak orang yang peduli akan budaya Indonesia yang perlu dilestarikan sehingga bisa dinikmati orang-orang 'saat ini'. Beberapa waktu yang lalu, saya masih bisa mencobanya pada event yang diselenggarakan di salah satu kota. Saya mengalami kesulitan untuk bisa berjalan menggunakan egrang, ternyata tidak selihai dulu lagi :)


Kamis, 19 September 2013

Model Belajarku Dulu

Jika mengingat masa-masa sekolah dahulu, ada kesan yang masih teringat tentang beberapa model belajar yang pernah saya lakukan. Salah satunya adalah mencatat pelajaran dalam sebuah gulungan kertas yang diselipkan pada kotak korek api. Metode ini saya dapat dari ide salah seorang guru ketika di SMP.

Sebagai seorang remaja, masa-masa tersebut menjadi masa yang 'romantis' untuk bisa 'mencintai' hal-hal baru. Saya sangat antusias terhadap beberapa metode 'belajar' apapun. Apapun yang saya terima dan 'menurut saya berguna', pasti akan saya lakukan dengan senang hati. Bersyukur sekali saat itu saya sudah bisa merespon sesuatu yang baik.

(kembali ke kotak korek api)
Cara membuatnya cukup simpel hanya sebungkus korek api jress, dua batang korek api (atau apapun yang menyerupai), dan tentu saja kertas yang nantinya akan digunakan untuk menulis. Pada permukaan kotak korek api dibuat lubang persegi, buat ukuran kertas selebar kotak korek api dengan panjang sesuai yang dikehendaki, tulisi kertas dengan materi pelajaran, dan ujung kertas harus dilekatkan pada batang korek api kemudian digulung, lalu letakkan batang korek api pada ujung kedua sisi kotak. Jadi nanti kalau mau membaca tulisan berikutnya hanya menggulungnya pada ujung batang korek. Lihat gambar saja kalau masih bingung :) Silahkan kembangkan sendiri supaya menjadi lebih baik dan menarik :)

Mengapa bentuknya kecil? Pada prinsipnya cara ini dipakai supaya lebih fleksibel dibawa kemana saja. Saat itu belum ada smartphone seperti saat ini yang bisa dibawa kemana saja dan bisa diisi apapun. Namun saat itu menjadi cara yang cerdas supaya ilmu pengetahuan bisa selalu dinikmati dimanapun berada. Waktu yang tepat yang saya lakukan untuk membaca adalah ketika sedang buang air besar di toilet. Toilet menjadi tempat yang paling nyaman untuk belajar, tidak perlu terburu-buru, cukup menikmati waktu dan kesempatan yang ada untuk multitasking, 2B (Boker sekaligus Belajar).

Bersyukur saat itu saya mempunyai kesempatan untuk mendapatkan metode belajar seperti ini. Sesuatu yang bisa saya ceritakan, bahkan mungkin bisa diterapkan untuk generasi berikutnya.

Hal penting yang perlu dilakukan oleh para pengajar saat ini adalah menciptakan model pembelajaran baru yang unik, menarik, kreatif, sehingga bisa selalu diingat oleh para pelajar, baik materi pelajaran maupun model belajarnya, khususnya masa-masa remaja, karena saat inilah pemikiran mereka bertumbuh. Model semacam ini saya pikir akan menjadikan pelajar bisa menikmati pendidikan yang mereka jalani saat ini, bukan karena paksaan tetapi atas kerinduan dirinya sendiri.

Mari belajar :)

Kamis, 12 September 2013

Bekerja Sesuai Passion

Bekerja sesuai passion itu:
  • menyenangkan, 
  • bergairah, 
  • bersemangat, 
  • tidak pernah bosan, 
  • tidak pernah lelah, 
  • berani menerima tantangan, 
  • menjadi kreatif dan inovatif,
  • hasil pada umumnya super unggul,
  • ...,
  • ...,
  • ...,
Ada beberapa daftar dan akan bertambah lagi :)
Ini menunjukkan bahwa bekerja sesuai pasion itu memiliki banyak nilai positifnya...

Apakah Anda bekerja sesuai passion??

Selasa, 03 September 2013

Bersepeda Suka-suka

Rutinitas harian yang padat membuat pikiran penat. Seharian harus berhadapan dengan komputer membuat pandangan dan pikiran hanya tertuju pada 'keindahan' layar monitor. Bahkan ketika pulang dari tempat kerja (dalam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor) lupa kalau disekeliling banyak hal yang bisa dinikmati.

Bersepeda salah satu alternatif yang saya lakukan untuk menikmati lingkungan dari
padatnya rutinitas. Menjelang sore hari, meskipun tidak rutin tiap hari, saya menyempatkan diri untuk bersepeda. Rutenya pun tidak tentu, bisa berkeliling kota menyusuri jalan atau hanya pergi ke stadiun olahraga dan berkeliling didalamnya.

Ada kenikmatan tersendiri ketika bersepeda. Saya bisa berbaur dalam keramaian (atau kesunyian) jalan, berseberangan dengan pengguna jalan, melihat para pedagang kaki lima, memandang indahnya gedung-gedung kota, bahkan bisa sambil berefleksi, selain itu bagus untuk kesehatan juga :)

Tak ada ruginya bersepeda, segar jiwa segar raga, mari bersepeda suka-suka :)

photonya gandengan gapapa ye :-)