Kamis, 07 Agustus 2014

Guruku 'sayang'

Saya teringat dengan masa sekolah, secara khusus ketika belajar di sekolah dasar. Masa untuk mulai mengenal banyak orang, mengenal lingkungan, mengenal sang guru dengan segala keterbatasannya.

Guruku 'sayang', sayang saya tidak dapat mengingat banyak tentang kebaikanmu, entah kenapa, seharusnya ada. Sayang hanya satu dua yang sempat saya ingat, tapi sekali lagi bukan karena kebaikanmu. Saat ini, saya berusaha mengingat, mencoba memposisikan diri kedalam masa lampau, bergerak, melihat, mengalami setiap aktifitas yang sedang terjadi, siapa tahu saya bisa melihat kebaikanmu.

----

Guru mengapa engkau tidak ada ketika kami membutuhkanmu, bukan materi ajar yang kami butuh, tapi kehadiranmu dengan tanggung jawab mendidik kami dengan segenap hatimu, membangun karakter kami, pribadi kami, mental kami. Guru dimana engkau, kami tidak tahu kabarmu, engkau hanya meminta salah satu teman kami membacakan buku yang sudah engkau titipkan, kami mencatatnya. Kami tidak tahu maksudmu, kami hanya tahu bagaimana nanti kami bisa mengerjakan soalmu dan mendapat nilai bagus darimu. Guru, apa yang engkau inginkan dari kami? Guru, engkau mau kami menjadi apa?

Guru kelas mengajar kami, memberikan tugas kepada kami, kami membawa pulang lalu mengerjakannya. Bahasa Indonesia, tugas mencari definisi kata. Aku tidak mencari siapapun, aku hanya mengambil buku paling tebal di rak buku rumahku, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dengan mudahnya aku mengerjakannya meskipun dengan perasaan takut, takut kalau jawabanku paling benar diantara teman yang lain. Takut kalau aku dianggap tidak berusaha dan dianggap itu hanya jawaban dari orang tuaku. Padahal tidak, aku sudah berusaha dengan mencari jawaban yang paling benar, mungkin berbeda dengan temanku yang hanya menggantungkan jawaban dari orangtuanya yang tentu saja belum tentu jawaban yang benar. Ketika hari pengoreksian, guru meminta murid mengoreksi hasil kerja dengan cara saling silang acak, guru membacakan jawaban, murid memeriksa jawaban teman. Apa yang terjadi? Jawabanku salah. Jawaban temanku yang 'itu itu itu' aja benar. Mana keadilanmu guru? Mana usahamu untuk mengetahui jawaban yang paling benar? Haruskah aku tetap mempecayaimu? Haruskah aku tetap menganggap engkau sebagai suri teladan?

----

Saya sudah mencoba untuk berusaha mengingat, namun belum bisa menggambarkan dengan jelas sosok guru, pahlawan tanpa tanda jasa yang dahulu telah mendidik saya.

Kepada guru saya akan berterima kasih atas pengajaran dan didikan yang telah diberikan. Untuk guru generasi sekarang didiklah murid dengan seluruh kemampuan yang dimiliki, didiklah dengan segenap hati, pikiran, dan akal budi.

Kamis, 03 Juli 2014

Saya bukan penyuka film

Ternyata saya bukan penyuka film, terbukti saya bisa hampir tertidur ketika nonton, bahkan di bioskop. :-)

Selasa, 20 Mei 2014

Nonton Dragon Ball Ah

Beberapa hari terakhir ini saya menonton film animasi jadul, 'Dragon Ball Kai' -- ga penting banget ya :-) Sengaja saya menonton dari awal (meskipun dalam seri ini Sun Goku sudah mempunyai isteri dan anak) sekedar untuk mengobati rasa penasaran saya tentang ceritanya Sun Goku menyelamatkan manusia dari orang-orang jahat. Maklum dulu (waktu masih sekolah) nontonnya hanya kalau ada waktu saja, apalagi stasiun televisi menayangkan pada hari Minggu pagi, yang hampir bersamaan dengan ibadah Minggu kristiani. Disela-sela waktu, saya menontonnya sebagai salah satu bentuk rekreasi digital, melonggarkan saraf-saraf otak menikmati cerita visual buatan negara Jepang.

Sangat seru melihat perjuangan Sun Goku menyelamatkan orang dan dunia yang dia cintai. Dalam kondisi apapun, dia tetap membela sekuat tenaga meskipun dirinya sendiri harus terluka. Sun Goku berlatih keras untuk melawan musuh-musuhnya, dia memanfaatkan tempat dan waktu kapanpun dia berada. Contoh saja ketika dia mati melawan Raditz karena jurus Piccolo, dia berlatih dengan Kaio Sama sampai dibangkitkan lagi ke bumi. Demikian juga ketika pergi ke planet nameks untuk melawan Freeza, Goku berlatih keras selama perjalanan di dalam capsule. Lalu setelah planet nameks hancur, dengan kendaraan yang dipakainya menuju planet Yardat, di planet tersebut dia belajar jurus baru lagi. Dan mungkin masih banyak lagi latihan Goku untuk melawan musuh-musuhnya sehingga mendapat kemenangan dalam pertarungannya.

Yang menarik dalam cerita ini adalah cara berlatih Goku, dia belajar di tempat manapun dan kapanpun berada. Disadari atau tidak, seringkali yang menjadi alasan utama tidak belajar adalah tidak ada waktu. Akhir-akhir ini saya sendiri mulai berefleksi tentang cara supaya bisa belajar dalam waktu yang (katakanlah) terbatas. Ada kesempatan yang sangat luas untuk belajar didalam setiap hal yang dikerjakan. Memanfaatkan setiap moment yang terjadi supaya bisa dijadikan bahan pelajaran. Memproses setiap kejadian, kemudian memikirkannya sehingga mengetahui manfaat untuk saat ini ataupun saat yang akan datang.

Sabtu, 03 Mei 2014

Break

Hari libur akan terasa menjemukan jika hanya berada di rumah sendirian. Maka akan lebih baik jika keluar dan menikmati suasana yang berbeda dari biasanya. Kondisi yang paling saya sukai adalah berada dalam kesejukan alam. Liburan kali ini saya me-refresh diri dengan berkunjung ke taman kota yang masih sejuk, dengan semilir angin dibawah rindangnya pohon, menatap kesegaran air di tepi kolam. Tempat yang paling dekat dengan biaya nol rupiah.

Sembari menikmati alam, kali ini saya juga membaca buku yang saya dapat beberapa waktu yang lalu. Topik penting selain pemrograman :-), kepemimpinan kristen. Topik menarik yang perlu diketahui oleh para semua orang supaya bisa memimpin secara benar sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Mengajarkan bagaimana memimpin bukan karna ambisi pribadi tetapi demi Kristus. Tidak mudah menjadi pemimpin kristen, karna banyak yang dunia ajarkan akan bertolak belakang dengan prinsip-prinsip kekristenan. Bisa jadi ketika menjadi pemimpin akan banyak yang tidak suka, tapi satu hal yang bisa jadi alasan dan motivasi melakukannya, untuk Kristus.

Selain baca buku sebenarnya saya juga mencoba untuk menulis blog dengan beberapa pendekatan tetapi tidak jadi-jadi :-) akhirnya saya memutuskan untuk menulis langsung dan ringan saja. Dan inilah hasil tulisan dengan pemicu 'daripada tidak ada / tidak menghasilkan'

Lain kali saya akan belajar membaca, memahami, dan menulis lebih baik lagi melalui pengalaman hidup yang sudah saya dapat :-)

Selasa, 15 April 2014

Bercerita Beralgoritma

Selincah apa bercerita? Setepat apa beralgoritma?
Bagaimana bercerita? Apakah sama halnya dalam beralgoritma? Atau justru lebih sulit beralgoritma?

Orang bercerita dongeng, banyak orang terhanyut dalam ceritanya. Tetapi apakah juga beralgoritma, mungkin orang tidak perlu mendengarnya, lebih baik tunggu hasilnya saja.

Keduanya adalah seni. Yang satu seni menuturkan peristiwa, yang satunya seni memecahkan masalah.

Sabtu, 12 April 2014

Mungkin perlu defragmentasi

Data yang ditampung sudah banyak, secara teori seharusnya akan mengalami pembengkakan yang mengakibatkan berkurangnya kapasitas ruang penyimpanan. Namun tidak demikian dengan otak. Saya tidak tahu persis berapa tepatnya kapasitas otak manusia, karena saya tidak mendapat informasi yang sama dari beberapa riset yang dilakukan ilmuwan, ada yang mengatakan hanya beberapa ratus megabyte, bahkan ada yang mengatakan milyaran megabyte -- 1 megabyte = 1024x1024 byte. Yang saya tahu pasti otak mampu menampung berapapun jumlah informasi yang diterima, otak memiliki kemampuan lebih dari komputer tercanggih yang ada saat ini dengan algoritma dan perhitungan yang sangat kompleks.

Saya tidak tahu berapa total informasi yang telah saya terima. Saat ini saya telah berusia dua puluh sembilan tahun, dan jika setiap detik saya bisa menampung ribuan informasi unik, berarti dalam usia ini secara kasar saya mendapat informasi ribuan triliun item, belum lagi jika dihitung hal-hal detil lainnya.

Informasi yang saya terima kemungkinan tidak tersusun secara rapi. Kalau berbicara ilmu komputer data mengalami fragmentasi, artinya data tidak menempati ruang yang saling berdekatan tapi terpisah. Akibat yang ditimbulkan sistem akan mengalami proses yang lebih lama karena harus meloncat ke ruang yang berbeda untuk mrndapatkan data yang seharusnya satu kesatuan. Nah bisa jadi apa yang saya alami mengalami hal yang demikian. Kadang saya harus berfikir lama untuk merangkai data supaya terkummpul sehingga menghasilkan informasi yang tepat sesuai dengan yang dikehendaki.

Defragmentasi yaitu proses untuk menangani berkas-berkas yang mengalami fragmentasi. Saya tidak tahu cara yang tepat untuk mengatasi masalah ini untuk setiap otak manusia. Tetapi setiap orang pasti punya caranya sendiri. Belajar!

Sekali lagi otak memiliki kemampuan yang canggih dibanding teknologi yang ada saat ini. Bisa saja tidak harus melakukan defragmentasi tetapi hanya perlu tahu jalan yang menghubungkan saja, karena otak adalah sebuah jaringan. Artinya setiap informasi saling terhubung seperti halnya media sosial yang dapat kita ketahui saat ini, setiap orang dapat saling terhubung dalam komunitas apapun yang berbeda.

Ini hanya sekelumit kisah bagaimana harus berjuang untuk menyelamatkan media penyimpanan saya. Saya tidak ingin media ini rusak sehingga tidak bisa digunakan lagi. Lebih dari itu media ini bisa melakukan perhitungan yang akurat dan cerdas.

Kamis, 10 April 2014

Kapas cutton bud tertinggal di kuping

Gila... malam-malam saya harus panik karena bermasalah dengan telinga, kapas cutton bud tertinggal di telinga. Ceritanya malam tadi sekitar jam sebelas, saya membersihkan telinga dengan cutton bud. Ketika mengeluarkannya, kapas sudah tidak menempel lagi pada ujung cutton bud. Panik bukan kepalang, saya mencoba mengeluarkannya tapi belum berhasil. Saya mencoba tenang dan berusaha tidur saja, berencana akan meminta bantuan dokter paginya. Tapi tetap saja tidak bisa karena ketidaknyamanan ini. Akhirnya saya mencari informasi untuk mengatasi masalah ini dan berhasil mengatasi kegalauanku.

Sepotong lidi. Alat sederhana ini membantu mengeluarkan kapas dari telinga saya. Awalnya ngeri memakai benda ini, takut melukai sehingga memperparah kondisi. Namun demi mengatasi masalah ini, saya memberanikan diri memakainya. Dengan lidi bersih yang dipatahkan lalu dimasukkan ke telinga, saya mencobanya dengan hati-hati, jika dirasa sudah mengenai kapas diputar searah saja dengan begitu kapas akan menyangkut kemudian bisa ditarik keluar. Dan tteteettt.. berhasil, lega rasanya, dan tidak perlu ke dokter :-)

Sebelum melakukan tindakan 'medis' ini saya memohon pertolongan Tuhan supaya berhasil dan tidak terjadi hal-hal buruk. Jadi saya mau berterima kasih pada Tuhan untuk pertolongannya.

Hati-hati terhadap cutton bud. Sayangi telinga, rawat dengan baik dan benar. Dengan telinga kita bisa mendengar (dan percaya).



Test Post Via Tablet PC

Udah lama ni saya ga posting blog ini. Iseng-iseng coba posting melalui tablet pc yang sudah saya miliki sejak bulan Januari yang lalu. Masih merasa kurang nyaman, karena tampilannya tidak menyesuaikan dengan ukuran layar / responsive. Tapi masih okelah :-)
Sekali lagi, ini hanya test "Hello world".

Selasa, 07 Januari 2014

Posting Pertama di Tahun 2014

Ini adalah tulisan pertama saya di tahun 2014. Saya sebenarnya bingung mau tulis apa. Daripada tidak menghasilkan apa-apa lebih baik saya menulis seperti ini saja. :)
Ini adalah hari kedua saya bekerja. Kemarin saya sudah memulai aktifitas dalam pekerjaan. Bersyukur kemarin sudah bisa melewati hari pertama dengan baik meskipun ada beberapa kekurangan. Harapannya saya tetap bisa berkarya dengan lebih baik lagi dan menghasilkan karya yang luar biasa!