Sabtu, 27 Agustus 2016

Tidak Pandai Bicara

Pergumulan yang selalu saya alami, bahwa saya tidak pandai bicara. Sudah sejak lama saya menyadari ini, ketika dalam studi di sekolah pun saya mengambil jurusan yang banyak berpikir eksak daripada merangkai kata, ketika SMA ambil jurusan IPA, ketika kuliah mengambil jurusan Teknik Informatika, dan ketika bekerja menjadi programmer. Entah mengapa otak saya tidak secerdas orang lain untuk hal bicara, padahal saya termasuk orang yang suka belajar. Sebenarnya bukan juga masalah bicara tetapi pola pikir, sepertinya otak saya tidak mampu mengatur dengan baik materi-materi yang didapat, untuk disusun kembali menjadi pemikiran diri sendiri, dan kemudian diekspresikan melalui kata-kata. Lebih suka hal-hal praktis daripada teori, makanya lebih baik ada deadline membuat aplikasi/program daripada deadline pengumpulan paper atau ketika harus melakukan presentasi.

Salah satu cara saya menyampaikan ide, dengan cara membuat tulisan seperti ini. Disinipun hanya sekedar pemikiran sederhana yang saya alami, bukan hal-hal ilmiah yang diangkat. Ada tempat yang lain dan saya coba untuk menyampaikan tapi juga kurang berhasil. Dan itu membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk menyusunnya. Kadang frustasi karena tidak bisa menyampaikan hal yang sederhana dengan baik. Tapi paling tidak masih ada semangat untuk terus belajar mengelola pikiran / pengetahuan untuk bisa dibagikan ke orang lain dengan cara yang baik.

Pagi ini, ditengah kegalauan saya karena masalah yang saya sampaikan diatas, saya dikuatkan oleh Firman Tuhan yang saya baca melalui buku renungan dari Santapan Rohani. Sudah lama saya tidak memakai buku renungan ini, sepertinya sejak pertengahan Juli, namun pagi ini saya mengucap syukur membuka renungan ini dan diingatkan tentang masalah yang saya hadapi. Bacaan diambil dari Keluaran 4:1-12, tentang Tuhan mengutus Musa, namun Musa merasa bukan orang yang tepat karena tidak pandai bicara.

Tuhan sudah memberi kuasa mujijat kepada Musa untuk ditunjukkan kepada orang Israel, tongkat menjadi ular (ay 3), tangan menjadi kusta (ay 6), dan air menjadi darah (ay 9). Namun Musa merasa kurang yakin karena tidak pandai bicara sejak dahulu, sehingga meminta Tuhan untuk mengutus orang lain. Tuhan memberi penguatan bahwa Tuhan berkuasa atas mulut, lidah, telinga, mata. Tuhan akan menyertai lidah dan mengajar apa yang harus dikatakan (ay 12).

Tuhan akan memakai pikiran dan mulut untuk bisa mengajarkan tentang kebenaran. Tuhan sendiri yang akan memberi pengertian hal-hal yang akan disampaikan. Hidup sesuai kehendak-Nya salah satu syarat supaya Tuhan berkuasa atas hidup. Tuhan berkuasa atas segalanya, bahkan hal-hal yang dirasa tidak mungkin oleh manusia.

Firman Tuhan kali ini meneguhkan saya untuk semakin mengandalkan Tuhan didalam kelemahan dan keterbatasan saya. Tuhan sudah mengutus, dan saya harus menerima dan melakukannya dengan segenap hati, melakukan dan mengerjakan yang terbaik bagi kemuliaan Tuhan. Bukan pikiran diri sendiri yang disampaikan tetapi pikiran Tuhan yang disampaikan melalui hidup saya.

(Update setelah sharing dengan teman.)
Untuk bisa melakukan dengan baik harus tetap tekun untuk belajar, cara yang sederhana yang bisa dilakukan adalah belajar mengerti pemikiran orang lain dahulu dengan membaca tulisan kemudian mencoba menjelaskan ulang dengan berbicara. Setelah itu bisa disampaikan juga melalui tulisan diri sendiri, paling tidak bisa mengikuti struktur dan pola pikir penulis yang sudah berpengalaman dalam menyampaikan ide. Sehingga yang dilakukan tersebut akan melatih pola pikir, hingga pada akhirnya punya gaya sendiri dalam menyampaikan.

Tidak ada komentar: