Sabtu, 24 Desember 2016

Perjalanan?

Tahun ini saya tidak mudik ke Lampung, tempat saya dilahirkan dan kedua orang tua berada. Saya lebih memilih untuk di Jogja saja, dengan harapan bisa menjalin relasi dengan teman-teman kembali dan melakukan hal-hal yang lebih 'menarik'. Seharusnya juga, saya punya banyak waktu untuk bisa menyelesaikan hal-hal yang sempat tertunda. Mengerjakan sesuatu yang sudah diatur-Nya, sesuai rencana-Nya.


Tahun-tahun lalu, menjelang Natal, kira-kira H-2, saya pulang ke kota Metro, Lampung, biasa pulang dengan kendaraan bus antar propinsi antar pulau. Bus jalan biasa, tidak ada orang-orang yang melambaikan tangan hanya untuk meminta sopir membunyikan klakson. Satu tahun yang lalu belum muncul 'om telolet om' yang menjadi viral di Indonesia saat ini :-).

Dari Jogja ke Lampung, waktu tempuh perjalanan dengan bus adalah satu hari. Meskipun lama saya sangat menikmati perjalanan, momen yang tepat untuk 'me time', saya bisa memikirkan banyak hal, mereview hal-hal yang sudah terjadi, mengevaluasi pelayanan sepanjang satu tahun, memikirkan hal-hal yang bisa dilakukan tahun yang akan datang, dan pikiran-pikiran liar lain yang muncul secara tiba-tiba. Tidak ada yang mengganggu saya untuk bisa memunculkan itu semua. Saya juga menikmati gema mesin bus, kadang membuat tidur saya menjadi lebih nyenyak :-). Mengamati gerak gerik pemudik. Menatap jauh ke ujung samudera yang luas, ketika menyeberangi Selat Sunda diatas kapal. Mengharap segera menginjak pulau lain, merasakan hawa khas pulau Sumatra. Mengharap segera bertemu dengan keluarga.

Kali ini saya tidak menyeberang lautan ke pulau seberang, tidak bertemu keluarga di Sumatra, namun saya sudah melakukan perjalanan. Perjalanan bersama tokoh-tokoh yang dipakai Tuhan mengabarkan berita sukacita, orang-orang yang sehati sepikir saling menolong dalam kasih, orang-orang yang mencintai Tuhan, orang-orang yang selalu berjalan bersama Tuhan selama hidupnya, orang-orang yang dengan berani membela kebenaran meskipun harus mengalami penderitaan. 

Merenungkan dan belajar dari kisah para Rasul dan dari sahabat-sahabat, membuat saya bisa melihat arti hidup ini, hidup bukan untuk diri sendiri, tapi ada satu hal yang harus diperjuangkan, adalah kebenaran, dari Tuhan, oleh Tuhan, dan untuk Tuhan. Kisah Para Rasul, kisah orang-orang yang mendedikasikan hidupnya bagi Tuhan, melakukan perjalanan panjang, dari rumah ke rumah, dari kota ke kota, dari pulau ke pulau, dari satu tempat ke tempat lainnya, tiada lelah, penuh sukacita. Kisah Para Rasul, adalah orang-orang biasa yang dipakai Tuhan, saya, Anda, kita semua, adalah orang yang sudah dipilih untuk melakukan perjalanan-Nya. 

Selamat menikmati perjalanan. Selamat mendengar dan mengikuti instruksi-Nya :-)