Menjadi Programmer Kristen


Beberapa waktu ini saya kembali memikirkan sebagai seorang
programmer kristen. Bukan hanya sebatas programmer dan beragama (berlabel) Kristen saja, tetapi seharusnya programmer kristen adalah orang yang benar-benar menghidupi Kristus dalam dirinya. Kecintaannya pada Tuhan, mampu diekspresikan melalui apa yang menjadi gairahnya, yaitu dalam menulis kode. Kecintaanya pada Firman Tuhan mampu disampaikan kembali dalam narasi yang tak terpahami oleh manusia biasa, narasinya berbentuk algoritma, yang pada akhirnya manusia biasa dapat memahami, menikmati dan mendapat manfaat darinya. Sang programmer itu menciptakan solusi untuk hal yang baik, dan memberi dampak, tak hanya untuk diri sendiri, ataupun sesama, tapi lebih daripada itu untuk Kristus. 

Kode adalah salah satu bentuk rasa syukur atas anugerah yang sudah Tuhan berikan. Talenta, skill yang Dia beri seharusnya dikembalikan untuk-Nya, karena hanya dari Dia, dan oleh Dia sang programmer memiliki kekuatan, pengetahuan, dan hikmat untuk menyampaikan ide, pikiran, dan solusi dengan cara yang berbeda, melalui kode. Bukankah Sang Programmer Agung sudah bekerja dengan ajaib menciptakan hal luar biasa yang tak terpikirkan oleh manusia. Ciptaan-Nya dan sistem kehidupan yang Dia buat, sungguh terlalu kompleks, tapi Dia mampu mengatur dengan sangat baik. Entah algoritma yang seperti apa yang Dia buat, sehingga sistem yang Dia rancang dan ciptakan sungguh tertata rapi, terintegrasi, dan begitu indah. Jadi apa lagi kalau bukan takjub dan rasa syukur, karena Dia adalah contoh Sang Programmer Terbaik kita. 

Menjadi programmer juga bukanlah proses yang mudah dan cepat. Tentu saja akan melewati beberapa proses yang harus dilakukan, ada hal-hal baru yang belum pernah kita pahami sebelumnya. Sikap mau terus belajar adalah kunci keberhasilan, belajar tentang budaya untuk memahami cara komputer bekerjabelajar memiliki logika yang baik untuk mampu memberi perintah komputer melakukan sesuatu, belajar berkomunikasi dengan memakai bahasa yang dipahami komputer, dan beberapa hal teknis lainnya. Ketekunan dan kedisplinan menolong kita untuk setia terhadap apa yang kita kerjakan. Learning by doing, learning by coding. Setahap demi setahap melihat perubahan yang terjadi, belajar hal baru, mengatasi kesulitan dan tantangan yang lebih sulit, tetapi pada akhirnya akan ada pengharapan bahwa kita bisa melakukannya. Mampu untuk menciptakan solusi yang baik dan memiliki dampak.

Teknologi terus berkembang, cara-cara yang dipakai tentu saja berubah, sang programmer harus adaptif terhadap perubahan tersebut. Fondasi yang kuat menolong untuk mampu berubah tetapi tidak bergeser dari prinsip yang sudah ada. Kemauan untuk terus belajar menolong dirinya untuk bertumbuh, mendapat pengetahuan yang lebih, dan memiliki tanggung jawab yang besar. Bukankah menjadi seorang Kristen itu adalah orang yang terus belajar? Mengikuti teladan Kristus berarti siap untuk menerima perubahan, yaitu menjadi serupa dengan Kristus. Caranya adalah terus belajar dan mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya.

Menjadi Programmer Kristen, adalah sebuah anugerah. Bukan hanya dengan pengetahuan dan kemampuan teknis saja, tetapi bagaimana dia, pikiran, hati, dan tangannya disatukan oleh Kristus, sehingga apa yang tertulis adalah ekspresi kasih yang nyata dari Sang Pemberi Hidup. Hidupnya, kerjanya, adalah implementasi kehidupan nyata dari Sang Programmer Sejati. Roh Kuduslah yang menginspirasi, bersaksi, dan beraksi atas hidupnya, dalam kode yang ditulisnya.



===

Background image: Icelandic sheep

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tela Telo

Berlatih Piano, Senam Jari

Tabungan Transparan