Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Menjadi Programmer Kristen

Gambar
Beberapa waktu ini saya kembali memikirkan sebagai seorang programmer kristen . Bukan hanya sebatas programmer dan beragama (berlabel) Kristen saja, tetapi seharusnya programmer kristen adalah orang yang benar-benar menghidupi Kristus dalam dirinya. Kecintaannya pada Tuhan, mampu diekspresikan melalui apa yang menjadi gairahnya, yaitu dalam menulis kode. Kecintaanya pada Firman Tuhan mampu disampaikan kembali dalam narasi yang tak terpahami oleh manusia biasa, narasinya berbentuk algoritma, yang pada akhirnya manusia biasa dapat memahami, menikmati dan mendapat manfaat darinya. Sang programmer itu menciptakan solusi untuk hal yang baik, dan memberi dampak, tak hanya untuk diri sendiri, ataupun sesama, tapi lebih daripada itu untuk Kristus.  Kode adalah salah satu bentuk rasa syukur atas anugerah yang sudah Tuhan berikan. Talenta, skill yang Dia beri seharusnya dikembalikan untuk-Nya, karena hanya dari Dia, dan oleh Dia sang programmer memiliki kekuatan, pengetahuan, dan hikmat untuk me

Belajar Menggambar

Gambar
Sepertinya ini yang paling saya ingat ketika belajar menggambar bentuk tubuh manusia. Bisa ingat karena menggambarnya sambil bernyanyi. Pelajaran yang saya dapat ketika sekolah dasar. Liriknya adalah sebagai berikut: Lingkaran kecil lingkaran kecil, l ingkaran besar Diberi pisang diberi pisang,  lalu dimakan Lingkaran kecil lingkaran kecil,  melingkar lingkar Enam enam, t iga puluh enam Enam enam,  lalu disilang Berikut ini adalah penjelasan lirik dan menggambarnya: "Lingkaran kecil lingkaran kecil" => sambil menggambar mata "Lingkaran besar" => menggambar kepala "Diberi pisang diberi pisang" => menggambar alis (diatas mata) "Lalu dimakan" => menggambar mulut "Lingkaran kecil lingkaran kecil" => menggambar telinga "Melingkar lingkar" => menggambar rambut "Enam enam" => menggambar tangan "Tiga puluh enam" => menggambar dasi "Enam enam" => menggambar kaki "Lal

Masa Abnormal

Gambar
Sudah kita ketahui bersama, bahwa sudah sejak Maret 2020 virus corona masuk ke Indonesia. Masyarakat mau tidak mau harus berhadapan dengan Covid-19 dalam menjalani aktivitas hariannya. Penerapan social distancing yang kini menjadi physical distancing menjadi keseharian masyarakat. Orang yang sering berkumpul, ngobrol, salaman, cipika-cipiki digantikan dengan kebiasan baru untuk tidak melakukan hal itu, dengan hanya memberi salam atau melakukan pertemuan secara online. Perkantoran terpaksa melakukan sistem kerja dari rumah, sekolah melakukan sistem pembelajaran dari rumah, bahkan peribadatan harus dilakukan dari rumah juga. Mau tidak mau semua orang dipaksa berdiam di rumah untuk melakukan aktivitas hariannya. Apakah tidak bosan? Itu bukan pertanyaan yang perlu dijawab, bukan sekedar bosan atau tidak bosan. Kami melakukan untuk menahan laju persebaran virus, sekaligus kami juga mencoba mencari solusi terhadap situasi ini. Masa ini adalah masa yang tidak lazim bagi kami semua, masa krisi

Nambal Ban Sepeda :'(

Gambar
Entah apa yang terjadi hari itu saya harus mengeluarkan biaya double karena harus mengganti ban sepeda yang bocor, bahkan sampai meletus. Hari itu tiga kali saya harus mengalami kerugian membeli tiga ban baru. Jadi saya harus menahan untuk tidak mengeluarkan biaya lagi untuk keperluan bersepeda hingga bulan depan, karena sudah overbudget untuk kebutuhan yang satu ini :-) Percobaan pertama, saya mengganti ban dengan backup ban dalam yang sudah saya beli sebelumnya, tapi mengalami kegagalan, karena saya mengira saya memompa ban terlalu keras hingga akhirnya meletus. Kemudian saya pergi ke toko sepeda untuk membeli ban dalam baru, dan patch kit sepeda, karena saya pikir bagus juga sekalian menambal ban yang bocor sebelumnya. Setelah dapat ban baru, saya menggantinya, terlihat oke tidak masalah, lalu saya gowes. Namun saat di tengah jalan, saya merasa ada yang tidak beres, ban depan terasa tidak stabil, kemudian saya berhenti dan mencoba mengecek, tapi saya pikir tidak ada masalah, a