Sabtu, 24 Desember 2016

Perjalanan?

Tahun ini saya tidak mudik ke Lampung, tempat saya dilahirkan dan kedua orang tua berada. Saya lebih memilih untuk di Jogja saja, dengan harapan bisa menjalin relasi dengan teman-teman kembali dan melakukan hal-hal yang lebih 'menarik'. Seharusnya juga, saya punya banyak waktu untuk bisa menyelesaikan hal-hal yang sempat tertunda. Mengerjakan sesuatu yang sudah diatur-Nya, sesuai rencana-Nya.


Tahun-tahun lalu, menjelang Natal, kira-kira H-2, saya pulang ke kota Metro, Lampung, biasa pulang dengan kendaraan bus antar propinsi antar pulau. Bus jalan biasa, tidak ada orang-orang yang melambaikan tangan hanya untuk meminta sopir membunyikan klakson. Satu tahun yang lalu belum muncul 'om telolet om' yang menjadi viral di Indonesia saat ini :-).

Dari Jogja ke Lampung, waktu tempuh perjalanan dengan bus adalah satu hari. Meskipun lama saya sangat menikmati perjalanan, momen yang tepat untuk 'me time', saya bisa memikirkan banyak hal, mereview hal-hal yang sudah terjadi, mengevaluasi pelayanan sepanjang satu tahun, memikirkan hal-hal yang bisa dilakukan tahun yang akan datang, dan pikiran-pikiran liar lain yang muncul secara tiba-tiba. Tidak ada yang mengganggu saya untuk bisa memunculkan itu semua. Saya juga menikmati gema mesin bus, kadang membuat tidur saya menjadi lebih nyenyak :-). Mengamati gerak gerik pemudik. Menatap jauh ke ujung samudera yang luas, ketika menyeberangi Selat Sunda diatas kapal. Mengharap segera menginjak pulau lain, merasakan hawa khas pulau Sumatra. Mengharap segera bertemu dengan keluarga.

Kali ini saya tidak menyeberang lautan ke pulau seberang, tidak bertemu keluarga di Sumatra, namun saya sudah melakukan perjalanan. Perjalanan bersama tokoh-tokoh yang dipakai Tuhan mengabarkan berita sukacita, orang-orang yang sehati sepikir saling menolong dalam kasih, orang-orang yang mencintai Tuhan, orang-orang yang selalu berjalan bersama Tuhan selama hidupnya, orang-orang yang dengan berani membela kebenaran meskipun harus mengalami penderitaan. 

Merenungkan dan belajar dari kisah para Rasul dan dari sahabat-sahabat, membuat saya bisa melihat arti hidup ini, hidup bukan untuk diri sendiri, tapi ada satu hal yang harus diperjuangkan, adalah kebenaran, dari Tuhan, oleh Tuhan, dan untuk Tuhan. Kisah Para Rasul, kisah orang-orang yang mendedikasikan hidupnya bagi Tuhan, melakukan perjalanan panjang, dari rumah ke rumah, dari kota ke kota, dari pulau ke pulau, dari satu tempat ke tempat lainnya, tiada lelah, penuh sukacita. Kisah Para Rasul, adalah orang-orang biasa yang dipakai Tuhan, saya, Anda, kita semua, adalah orang yang sudah dipilih untuk melakukan perjalanan-Nya. 

Selamat menikmati perjalanan. Selamat mendengar dan mengikuti instruksi-Nya :-)

Sabtu, 26 November 2016

Syukur

Syukur pada-Mu ya Tuhan

Syukur atas kebaikan
Syukur atas kesehatan
Syukur atas makanan
Syukur atas pekerjaan
Syukur atas persahabatan
Syukur atas pelayanan

Hidup dalam keluarga
Ada duka ada suka
Jalani penuh sukacita
Berjalan bersama-Nya

Aku tak tahu masa depan nanti
Tapi aku yakin dengan pasti
Pengalaman dengan-Mu yang tiada terganti
Mengingatkanku kuasa-Mu yang begitu tinggi

Bersatu hati bergandeng tangan
Hidup dalam satu tujuan
Memuji dan memuliakan-Nya
Sepanjang hidup yang sudah diberi-Nya

Syukur pada-Mu ya Tuhan

Sabtu, 27 Agustus 2016

Tidak Pandai Bicara

Pergumulan yang selalu saya alami, bahwa saya tidak pandai bicara. Sudah sejak lama saya menyadari ini, ketika dalam studi di sekolah pun saya mengambil jurusan yang banyak berpikir eksak daripada merangkai kata, ketika SMA ambil jurusan IPA, ketika kuliah mengambil jurusan Teknik Informatika, dan ketika bekerja menjadi programmer. Entah mengapa otak saya tidak secerdas orang lain untuk hal bicara, padahal saya termasuk orang yang suka belajar. Sebenarnya bukan juga masalah bicara tetapi pola pikir, sepertinya otak saya tidak mampu mengatur dengan baik materi-materi yang didapat, untuk disusun kembali menjadi pemikiran diri sendiri, dan kemudian diekspresikan melalui kata-kata. Lebih suka hal-hal praktis daripada teori, makanya lebih baik ada deadline membuat aplikasi/program daripada deadline pengumpulan paper atau ketika harus melakukan presentasi.

Salah satu cara saya menyampaikan ide, dengan cara membuat tulisan seperti ini. Disinipun hanya sekedar pemikiran sederhana yang saya alami, bukan hal-hal ilmiah yang diangkat. Ada tempat yang lain dan saya coba untuk menyampaikan tapi juga kurang berhasil. Dan itu membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk menyusunnya. Kadang frustasi karena tidak bisa menyampaikan hal yang sederhana dengan baik. Tapi paling tidak masih ada semangat untuk terus belajar mengelola pikiran / pengetahuan untuk bisa dibagikan ke orang lain dengan cara yang baik.

Pagi ini, ditengah kegalauan saya karena masalah yang saya sampaikan diatas, saya dikuatkan oleh Firman Tuhan yang saya baca melalui buku renungan dari Santapan Rohani. Sudah lama saya tidak memakai buku renungan ini, sepertinya sejak pertengahan Juli, namun pagi ini saya mengucap syukur membuka renungan ini dan diingatkan tentang masalah yang saya hadapi. Bacaan diambil dari Keluaran 4:1-12, tentang Tuhan mengutus Musa, namun Musa merasa bukan orang yang tepat karena tidak pandai bicara.

Tuhan sudah memberi kuasa mujijat kepada Musa untuk ditunjukkan kepada orang Israel, tongkat menjadi ular (ay 3), tangan menjadi kusta (ay 6), dan air menjadi darah (ay 9). Namun Musa merasa kurang yakin karena tidak pandai bicara sejak dahulu, sehingga meminta Tuhan untuk mengutus orang lain. Tuhan memberi penguatan bahwa Tuhan berkuasa atas mulut, lidah, telinga, mata. Tuhan akan menyertai lidah dan mengajar apa yang harus dikatakan (ay 12).

Tuhan akan memakai pikiran dan mulut untuk bisa mengajarkan tentang kebenaran. Tuhan sendiri yang akan memberi pengertian hal-hal yang akan disampaikan. Hidup sesuai kehendak-Nya salah satu syarat supaya Tuhan berkuasa atas hidup. Tuhan berkuasa atas segalanya, bahkan hal-hal yang dirasa tidak mungkin oleh manusia.

Firman Tuhan kali ini meneguhkan saya untuk semakin mengandalkan Tuhan didalam kelemahan dan keterbatasan saya. Tuhan sudah mengutus, dan saya harus menerima dan melakukannya dengan segenap hati, melakukan dan mengerjakan yang terbaik bagi kemuliaan Tuhan. Bukan pikiran diri sendiri yang disampaikan tetapi pikiran Tuhan yang disampaikan melalui hidup saya.

(Update setelah sharing dengan teman.)
Untuk bisa melakukan dengan baik harus tetap tekun untuk belajar, cara yang sederhana yang bisa dilakukan adalah belajar mengerti pemikiran orang lain dahulu dengan membaca tulisan kemudian mencoba menjelaskan ulang dengan berbicara. Setelah itu bisa disampaikan juga melalui tulisan diri sendiri, paling tidak bisa mengikuti struktur dan pola pikir penulis yang sudah berpengalaman dalam menyampaikan ide. Sehingga yang dilakukan tersebut akan melatih pola pikir, hingga pada akhirnya punya gaya sendiri dalam menyampaikan.

Sabtu, 20 Agustus 2016

Jahit Jeans

Saya punya beberapa celana jeans yang lumayan masih bagus, masih layak dipakai tapi bermasalah dengan resleting. Sayang kalau dibuang hanya karena resleting yang rusak. Daripada membeli baru lebih baik diperbaiki saja, bisa menghemat uang untuk dipakai hal-hal yang lain yang lebih berguna. Paling tidak ini adalah salah satu bentuk menghargai barang yang sudah dipercaya oleh Tuhan, harus merawatnya dengan baik, atau kalau tidak dipakai lebih baik diberikan orang yang membutuhkan. Ini juga cara mengatur uang yang sudah diberi Tuhan, uang harus dipakai dengan benar, karena itu pemberian yang harus bisa dipertanggungjawabkan.

"Vermak Jeans", seringkali saya lihat dipinggir-pinggir jalan atau dengan berkeliling, banyak orang yang menawarkan jasa jahit pakaian. Biasanya orang datang untuk memperbaiki kerusakan/perubahan kecil pada pakaian, kalau ada yang sobek, rusak, mengecilkan/membesarkan, merubah pola pakaian, dll. Sebelumnya saya sudah melihat-lihat tempat yang sekiranya bisa saya kunjungi, dan saya memakai tempat itu untuk memperbaiki. Letaknya ada dipinggir jalan, atap tidak permanen hanya dengan plastik dan tiang bambu saja. Dari hasil pengerjaan lumayan cepat  dan sangat lincah, hasilnya juga bagus. Saya kira tempat yang hanya dipinggir jalan juga tidak kalah baik dengan yang berada di tempat permanen, mereka tidak sembarang mengerjakan, mereka menjaga kualitas dan layanan agar pengunjung puas dan akhirnya datang lagi.

Jadi ingat dahulu ada pelajaran tata busana ketika sekolah. Harus membuat pola pakaian dan menjahit sendiri, dan mengalami kesulitan karena tidak bisa menjahit, dan akhirnya dibantu teman untuk menjahit :-)

Rabu, 17 Agustus 2016

I code u Indonesia!

Hari ini adalah hari kemerdekaan RI yang ke 71. Banyak orang yang merayakan dan mengenang kemerdekaan dengan cara yang beragam, ada acara tirakatan pada malam 17 Agustus, upacara bendera, perlombaan, memasang bendera, atau aktifitas lainnya.

Saya mau mengenang, menanam, dan menumbuhkan rasa cinta Indonesia dengan cara yang berbeda. Lalu saya memikirkan "Apa yang sudah saya berikan ke Indonesia? Bagaimana saya bisa berkontribusi terhadap Indonesia? Apa yang saya bisa dengan kemampuan yang saya miliki?" Lalu akhirnya saya memutuskan untuk memakai ilmu, kemampuan, dan pengalaman saya dalam bidang komputer untuk memberikan kontribusi, wujud cinta saya kepada Indonesia.

Salah satu cara mewujudkannya, hari ini saya membeli domain garuda.my.id. Domain ini saya dedikasikan untuk Indonesia, supaya saya bisa mengingat bahwa Garuda yang adalah simbol nasional negara Indonesia juga menjadi identitas saya sebagai warga Indonesia, serta mengingat dan mengamalkan kelima sila dalam keberagaman hidup berbangsa dan bertanah air. Garuda yang adalah seekor burung yang gagah, energik, dan dinamis juga menjadi contoh dalam menjalani hidup ini, dalam dunia yang terus berubah dapat dengan sigap menghadapi.

Ada beberapa hal lain yang masih saya pikirkan untuk bangsa Indonesia, khususnya dalam mendukung dan mengisi era digital saat ini dalam bidang teknologi. Saya ingin sedikit kemampuan ini, bisa memberi dampak kepada bangsa Indonesia.

Dirgahayu Indonesiaku, I code u!
Tunggu hal-hal lain yang bisa kuberikan padamu :-)

Sabtu, 13 Agustus 2016

Jatuh Dari Motor

Hari Minggu yang lalu saya mengalami kecelakaan, saya jatuh dari motor. Motor yang saya kendarai tersenggol oleh motor dibelakang saya ketika saya hendak membelok. Saya menyadari saya yang melakukan kesalahan, tidak mempersiapkan kalau akan belok kekanan karena lupa, sehingga ditengah jalan dalam keadaan akan lurus saya mencoba belok kekanan dan tersenggol motor dibelakang dan pada akhirnya saya jatuh dari motor. Mengucap syukur kepada Tuhan karena saya dan teman saya dalam keadaan baik (meskipun sedikit terluka di bagian tangan dan memar dibahu karena menghantam aspal) demikian pula orang yang terlibat kecelakaan dengan saya.

Perlindungan Tuhan
Bukan kejadian yang biasa saja atau beruntung kalau saya dalam keadaan baik, saya melihat itu pertolongan Tuhan. Tuhan memberikan perlindungan sehingga saya diberi kesempatan untuk tetap dapat melakukan pekerjaan-Nya.

Berdoa
Sebelum kejadian, saya sudah merasa ada sesuatu yang salah, saya merasa 'grusa grusu' dalam beraktifitas sehingga pada kesempatan di siang hari saya memberikan waktu saya untuk berdoa kepada Tuhan. Saat itu saya sudah cukup tenang karena saya bisa menyampaikan apa yang saya rasa kepada Tuhan. Pada sore harinya saya pergi menggunakan motor dan sayapun berdoa supaya saya sampai ditempat dalam keadaan baik, namun akhirnya saya tetap mengalami kecelakaan. Kalau saya melihat apa yang saya lakukan sebelumnya, saya sudah berdoa, saya bisa saja marah kepada Tuhan. Namun saya mengucap syukur karena saya diberi  hikmat untuk melihat kejadian itu, dalam keadaan baik atau buruk, Tuhan turut bekerja didalamnya. Tuhan tidak melakukan sesuatu yang saya inginkan, tetapi Tuhan tetap melakukan apa yang sudah Dia rencanakan. Tuhan memberikan pelajaran kepada saya untuk bisa melihat pekerjaan Tuhan yang besar, kedaulatan Tuhan, kasih sayang Tuhan.

Fokus
Pelajaran lain dari kejadian ini, saya diingatkan untuk fokus pada tujuan ketika dalam perjalanan, sehingga tidak 'blank' saat dijalan yang bisa berakibat fatal karena melakukan gerakan yang tiba-tiba ketika berkendara. Tahu arah dan tujuan sehingga bisa merencanakan jalan yang akan ditempuh. Demikian pula hidup :-)

Jadi, hati-hati berkendara, mohon pimpinan Tuhan!

Sabtu, 23 Juli 2016

Berjuang Belajar Pemrograman

Saya akan membagikan pengalaman selama saya belajar pemrograman, mulai pertama kali saya mengenalnya.

Dunia pemrograman mulai saya kenal ketika masuk perguruan tinggi. Saat mendaftar di perguruan tinggi, saya tidak tahu nanti bakal belajar apa di kampus, yang saya tahu saya akan diajari membuat program, itupun program yang seperti apa juga tidak tahu. Pengetahuan saya tentang komputer sangatlah kurang, tidak banyak pelajaran komputer yang saya dapat selama pendidikan Sekolah Menengah Atas, lebih banyak ketika di SMP (terima kasih untuk guru komputer di SMP) sehingga membuat saya berkesan tentang komputer. Dengan alasan yang sedikit tidak masuk akal juga -- bisa mengetik sepuluh jari --, saya memberanikan diri mengambil jurusan Teknik Informatika.

Mata kuliah tentang pengenalan komputer dan pemrograman mulai saya dapat. Beberapa matakuliah sudah diajarkan, tapi saya tetap merasa orang yang paling tidak tahu apa-apa tentang komputer, orang-orang saat itu sudah tahu tentang browser (Internet Explorer, Netscape Navigator), sedangkan saya tidak tahu itu apa. Bahkan untuk menginstal sistem operasi saya juga tidak bisa. Pernah suatu ketika satu angkatan bikin jaket angkatan, saya tidak memesan karena saya tidak punya keberanian untuk memakainya karena belum siap mengenakan jaket yang bertuliskan Teknik Informatika. Ketidakmampuan ini menuntut saya untuk belajar lebih banyak, karena kalau hanya mengandalkan kuliah saja tidak cukup. Buku-buku yang 'tidak terlalu penting' saya beli, tentang cara 'menginstal sistem operasi', 'tips trik menulis di word processor', 'html untuk pemula', 'membuat gambar/logo', 'pemrograman dasar', 'database', dll. Sering ke lab komputer untuk browsing dan download program komputer, sering ngikutin forum-forum pemrograman. Saya juga sering ke perpustakaan untuk meminjam buku dan melegalkan yang tidak seharusnya dilakukan, yaitu fotocopy buku semua lembar halaman. Beberapa buku yang berkaitan dengan komputer saya baca untuk menajamkan konsentrasi pendidikan yang akan ditempuh, kira-kira cocok dibidang apa.

Mulai saatnya saya tahu tentang ketertarikan saya akan dunia pemrograman. Saya mulai banyak lagi mengumpulkan buku-buku tentang pemrograman, belajar tentang konsepnya sehingga saya bisa mengembangkan sendiri. Mengimplementasikan apa yang ada dalam buku kemudian mengembangkannya. Mencari banyak sekali kode sumber (sourcecode) dari internet ataupun dari teman-teman mahasiswa, tujuannya untuk belajar tentang gaya berfikir mereka dan membandingkan dengan konsep yang sudah didapat. Memanfaatkan waktu lebih banyak untuk membuat program daripada bermain game (meskipun tidak semua dapat diselesaikan), yaitu membuat aplikasi untuk kebutuhan pribadi, misal catatan pribadi, situs pribadi, perhitungan keuangan pribadi, katalog bahan-bahan pribadi (sourcecode, e-book, artikel) dll.

Yang paling menarik, selama itu saya sangat tertarik dengan kekristenan. Sepertinya Tuhan berdaulat atas hidupku, Ia selalu mengarahkan pikiranku ke sana. Sehingga saat itu, saya bereksperimen sendiri membuat program Alkitab untuk kepentingan pribadi, yang datanya saat itu diambil dari salah satu program Alkitab juga. Pernah juga bikin aplikasi kumpulan lagu rohani, karena saat itu saya sering tidak hafal dengan lirik lagu. Bikin sistem informasi gereja, meskipun sistemnya tidak digunakan, paling tidak ada prototype yang bisa dikembangkan. Hingga pada akhirnya saya bisa menggunakan kemampuan programming dengan 'benar'. Terima kasih Tuhan.

Butuh waktu banyak untuk mengerti, butuh waktu banyak juga untuk mengerjakan. Kadang tidak bisa tidur nyenyak karena terbawa didalam tidur, selalu terpikir cara penyelesaiannya. Sering bergumul tentang membagi waktu dengan keluarga, pelayanan dan sosial, sama-sama penting.

Pada akhirnya saya merasa sudah cukup memiliki pengetahuan dan pengalaman, meskipun itu hanya sebagian kecil dari kebutuhan saat ini.

Seperti itulah awal perjuangan selama saya belajar komputer, khususnya belajar pemrograman. Tentu saja pengalaman setelahnya (hingga saat ini) lebih banyak dari apa yang saya ceritakan diatas. Lain kali akan saya ceritakan kembali :-) dan tulisan-tulisan lain tentang pemrograman akan saya taruh di tempat yang lain bukan disini (doakan supaya bisa membagikan pengalaman coding yang menarik ini) :-)

Sebagai catatan, saat ini untuk mendapatkan bahan-bahan pemrograman sangat mudah sekali. Di internet sudah banyak sekali tutorial, baik dalam bentuk teks, ataupun multimedia (audio, infografis, video, dll). Generasi saat ini akan sangat mudah belajar mandiri dengan materi-materi digital.

Minggu, 12 Juni 2016

Aroma Gabah

Aroma gabah (butir padi yang lepas dari tangkainya) begitu menyengat ketika seseorang mengeluarkannya untuk dijemur diterik matahari. Aroma yang khas yang mengingatkanku tentang masa kecil. Saya sering bermain disawah, saya sering menjemur gabah, saya sering ikut menggiling padi di pabrik.

Orangtua dengan pekerjaan sambilan sebagai petani (peran yang dilakoni setelah mengajar) seringkali mengajak kami anak-anaknya untuk bertani disawah, kadang kami ikut untuk mencangkul, mencabut rumput, mengambil hama keong, memupuk, bahkan menuai padi. Kadang menjadi tugas yang menyenangkan ketika kami ingin mengisi waktu luang kami sambil bermain. Kami bisa memainkan lumpur disawah, keceh (bahasa jawa yang berarti bermain air), atau sambil cari belut. Namun tidak jadi menyenangkan ketika kami menganggap sebagai pekerjaan, yang berarti itu beban yang harus ditanggung. Pelajaran sederhana bagi saya saat ini, bagaimana saya bisa menyikapi setiap hal dengan lebih bijaksana, melakukan setiap hal dengan cara yang menyenangkan, menikmatinya seperti bermain, dan lebih lagi bersyukur karena itu adalah anugerah pemberian dari Tuhan.

---

Saya teringat, dulu pernah diminta untuk jadi insinyur pertanian karena kecintaan/passion/hobi ortu terhadap pertanian. Tapi saya tidak suka pertanian, tapi lebih memilih IT, bidang yang saat ini saya geluti. Peran yang hampir mirip dilakukan orangtua, sayapun membuka lahan, mengolah, memelihara melalui dunia digital. Tuaian lebih banyak, karena yang menikmati tidak hanya diri sendiri atau keluarga saja, tetapi orang banyak. Lebih lagi bisa berdampak besar, mengubah orang menjadi lebih baik dan benar sesuai kehendak-Nya.

Kalau bicara tentang hasil/tuaian adalah tergantung dari cara memelihara, petani harus setia dan tekun terhadap apa yang dikerjakan, tidak boleh putus asa, atau malas-malasan. Petani harus tahu tentang seluk beluk pertanian, cara memelihara mulai dari membajak, menabur benih, menyemai, menyiangi, mengairi, memupuk, hingga waktu menuai, harus tahu waktu (timing), obat, kadar (proporsi), alat-alat (tools), cuaca (kondisi), dll. Petani harus memiliki rencana, strategi, tanaman yang cocok untuk ditanam pada musimnya, serta langkah-langkah pemeliharaan. Tuaian yang besar akan diperoleh

Hal-hal diatas, sama halnya yang harus dilakukan ketika bertani di dunia digital.

---

Aroma gabah, menggugah untuk melakukan hal yang tak terbatas.

Jumat, 25 Maret 2016

Hari Jumat

Jumat Agung
Hari ini umat Kristen memperingati hari Jumat Agung, hari dimana Tuhan Yesus menderita dan mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa manusia. Pagi hari tadi saya pergi beribadah ke Gereja dan mengikuti perjamuan kudus. Kali ini saya pergi ke Gereja yang berbeda dari biasanya, di Gereja ini masih menggunakan cawan (tuwung) sebagai tempat air anggur, yang biasanya menggunakan sloki sebagai wadahnya. Satu cawan diisi air anggur dan diedarkan untuk diminum oleh beberapa jemaat. Bersyukur dapat beribadah dan mengingat kematian Yesus yang telah mati untuk saya sehingga saya bisa hidup. -- "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yoh 3:16)

Toko Buku
Siang hari saya pergi ke toko buku, sekedar refreshing dan mencari inspirasi dengan hal-hal baru dengan membaca buku. Ada satu buku yang mirip dengan pengalaman yang saya alami ketika bekerja. Beberapa pointnya adalah mencari jalan keluar itu mengasikkan, mencari solusi itu menyenangkan, mendapat solusi itu membahagiakan, dan kreatif akan memberikan makna. Mirip ketika saya sedang menulis kode.
Berpindah ke toko buku lain, dan mendapatkan buku-buku murah (harga mulai lima ribu rupiah). Saya membeli tiga buku bacaan, bukan buku teknis (komputer dan pemrograman), tentang Rama dan Sinta, tentang teknologi, dan tentang makanan. Paling tidak bisa memberi kesegaran dan menambah wawasan dari persepektif yang lain.

Konfigurasi ElasticSearch
Akhirnya setelah kurang lebih satu minggu mencari jalan keluar, akhirnya saya mendapat hasilnya. Membahagiakan!!! Sesuai buku yang saya baca tadi siang. Mempelajari hal baru itu tidak mudah, butuh perjuangan, harus belajar sana-sini, baca buku, baca artikel, tanya forum, lihat tutorial, dan harus tetap semangat, kalau tidak bakal putus asa dan tidak mendapat hasil. Saat ini saya sedang mempelajari tentang NoSQL (istilah dalam komputer, tentang manajemen basis data) dan memakai produk couchbase. Saya sedang menghubungkan couchbase dengan elasticsearch, sehingga hasil pencarian dapat lebih baik. Butuh waktu tenang, sendiri, tanpa gangguan untuk menyelesaikan masalah yang seharusnya tidak terlalu sulit. Saatnya meneruskan koding menggunakan hasil dari elasticsearch. Yeaa!!!

Minggu, 06 Maret 2016

Memasak Kode

Saya bukan koki yang ahli dalam memasak. Tapi saya bisa mengolah masakan, paling tidak untuk diri sendiri. Tidak setiap hari atau rutin memasak, hanya pada saat-saat ingin melakukan saja. Karena memasak membutuhkan waktu yang tidak singkat, dimulai dengan menyiapkan bahan, belanja, membuat bumbu, dan sampai proses memasaknya. Lama atau tidaknya tergantung pada jenis masakan yang dibuat, tapi yang jelas menghabiskan lebih cepat daripada membuatnya. Namun ada kebahagiaan tersendiri kalau masakan yang dibuat dapat habis, berarti sukses dalam memasak. Mungkin inilah yang dirasakan para ibu, ada kebanggaan dan kebahagiaan karena masakannya bisa dinikmati (meskipun ada kalanya terpaksa/dipaksa harus menikmati), artinya usaha untuk memasak tidak sia-sia. 

Memasak sebagai salah satu jalur kreatifitas. Meskipun saya tidak ekspert pada bidang ini, yang jelas ada masakan yang bisa dibagi dan dinikmati bersama dengan orang lain. Masakan juga adalah sebuah hasil karya, hasil dari sebuah pemikiran (termasuk mikir mau masak apa) dan tindakan. Masalah enak tidaknya urusan belakang, yang penting ada hasil, masakan bisa dimakan, dan memiliki cita rasa. Memasak adalah seni, ada kreatifitas didalamnya, karena ada kalanya bisa menambahkan apa saja yang cocok (meskipun dicocok-cocokin), bisa menggunakan gaya yang berbeda dalam mengolahnya, yang penting jelas akan dibuat apa. Pengetahuan dan pengalaman sangat mendukung, jadi untuk menghasilkan masakan yang enak dibutuhkan jam terbang yang banyak juga (tapi kalau tiap hari harus masak saya tidak mau, ada yang lebih penting daripada melakukan hal ini, he..). Jadi kuncinya mau melakukan, mau untuk menghasilkan sesuatu yang bisa dinikmati. 

Setelah asik memasak dan menyantap, ada jalur kreatifitas lain yaitu menulis kode. Dibanding dengan memasak, saya memiliki hasrat (passion) yang besar pada bidang ini. Sebagian waktu saya hampir dihabiskan hanya dengan berkomunikasi dengan mesin. Keterampilan yang tidak semua orang miliki, bisa berkomunikasi, berdiskusi, bahkan berdebat dengan mesin. Sulit, memang. Karena itu harus mengerti bahasa, logika, dan karakter mesin. Inipun bukan hasil yang instan karena membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang besar. Selain quality time, juga harus memiliki quantity time. Harus bisa memahami pola, karakter, kemampuan, atau semua layanan yang dimiliki sehingga benar-benar bisa menggunakannya dengan baik. Perjuangan tidak pernah berhenti karena sang mesin senantiasa memiliki kecenderungan untuk berubah, yang berarti juga harus tahu perilaku yang baru dan itu harus dipelajari. 

Tentang menulis kode, sama halnya dengan masak. Ada peralatan, ada bumbu, ada yang memasak, ada yang menikmati. Cara memasaknya pun berbeda, tergantung pengetahuan, kemampuan, dan pengalaman si penulis kode. Mau bikin apa juga kadang tergantung yang mau makan (pengguna). Nanti kalau dibuatkan yang hanya sesuai keinginan sendiri, pengguna tidak suka, sia-sialah pengorbanan, sudah capek-capek membuat, dibuang begitu saja. Jadi sebelum menulis kode pastikan bahwa nantinya (hasil akhir) pengguna, paling tidak diri sendiri bisa menikmatinya. Pengguna ingin satu kemampuan, tetapi bisa jadi ada ribuan baris kode yang harus diubah. Untuk itu perlu menulis kode dengan cara yang benar, bagaimana menulis kode yang baik, yang bisa untuk dikembangkan, bisa dibaca dengan mudah, bisa dikerjakan bersama-sama dengan tim. Menghasilkan produk yang baik yang bisa dinikmati adalah tujuan menulis kode, dan mengekspresikan pemikiran melalui kode adalah seni bagi seorang programmer. 

Memasak ataupun menulis kode, sama-sama menghasilkan sesuatu. Memasak dan menulis kode sama-sama bisa dinikmati; bisa dinikmati ketika dalam proses pembuatannya, bisa dinikmati ketika sudah dalam bentuk jadi (produk).
Jadi mari berkreatifitas melalui apa yang bisa Anda lakukan sesuai dengan minat Anda. :-)

Jumat, 12 Februari 2016

Nanti Keluar Sungutnya

"Kalo bekerja harus dengan sukacita, jangan bersungut-sungut, nanti keluar sungutnya."

Kalimat ini beberapa kali saya dengar ketika saya masih berusia belasan tahun. Kalimat yang sering Bapak ucapkan ketika beraktivitas bersamanya. Beliau mengajarkan anak-anak untuk mandiri, mengajarkan untuk selalu menikmati apa yang dikerjakan dengan sukacita. Beliau mengajar untuk selalu bernyanyi, memuji Tuhan, mengucap syukur atas apa yang sudah diterima dengan segala yang dapat dikerjakan. Ketika saya mulai malas-malasan dan mengeluh, beliau kembali mengucapkan kalimat itu kepada saya dengan nada guyon tapi tegas dan penuh kasih. Teguran tersebut membekas kepada saya hingga sekarang.

Kalimat yang selalu saya ingat, untuk melakukan segala sesuatu dengan sukacita, tanpa bersungut-sungut. Mengucap syukur atas segala yang sudah dipercayakan kepada saya. Mengerjakan dengan kasih dan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi.


Karena itu, bersukacitalah di dalam Dia, hai semua orang yang telah menjadi milik-Nya, dan bersorak-sorailah, hai semua orang yang taat kepada-Nya. (Mzm 32:11 - FAYH)


Arti kata sungut dalam KBBI:
1su·ngut n 1 rambut panjang yg berfungsi sbg indra atau perasa (di kepala atau hidung beberapa binatang, spt jangkrik, ikan lele): -- jangkrik; 2 misai; kumis: -- kucing;
su·ngut-su·ngut n sungut 
2su·ngut n comel; gerutu: ia menangis dng tidak ketinggalan pula -- leternya;-- leter berbagai comel dan gerutu;
ber·su·ngut v bersungut-sungut;
ber·su·ngut-su·ngut v mencomel; menggerutu: setelah terjadi tawar-menawar harga, orang itu membayarnya juga meski-pun dng - 



Minggu, 17 Januari 2016

Kompas Hidup

Salah satu waktu refreshing saya adalah dengan bersepeda. Mengayuh pedal sepeda dan menikmati kondisi sepanjang jalan yang dilalui membuat saya menjadi segar. Sambil bersepeda saya juga mengambil kesempatan untuk belajar, mencari ide, inspirasi, refleksi hidup yang bisa saja tidak didapat ketika hanya berada di dalam rumah karena terganggu dengan hal-hal lainnya. Untuk menghindari kebosanan saya mencari jalan-jalan sepi yang sedikit dilalui oleh kendaraan bermotor, ya konsekuensinya kadang salah arah, salah jalur. Karena saya tidak cukup baik dalam mapping jalan, saya membawa kompas supaya saya tidak kehilangan arah ketika tersesat di jalan, paling tidak saya tahu harus ke arah mana untuk bisa mencapai tujuan.

Kadang dalam menjalani hidup kita juga bisa salah arah, tapi bersyukurlah kalau selalu diingatkan. Diingatkan untuk membawa dan melihat kompas lagi. Dalam hidup orang beriman kompas kita adalah Firman Tuhan. Firman Tuhan menjadi petunjuk orang beriman dalam bertindak. Firman Tuhan juga menjadi pusat pondasi, inspirasi, kreasi, aksi sehingga hidup ini bisa merefleksikan Allah yang sebenarnya. Selamat menikmati hidup :-)