Minggu, 21 Oktober 2012

Ngamen Lagu Rohani: Strategi Bisnis?

Kemarin malam saya bersama teman-teman makan di tempat makan yang berada pada pinggir jalan kota. Sebelum makanan datang kami ngobrol bersama, berdiskusi tentang pekerjaan dan dampaknya bagi masyarakat :-), ketika kami ngobrol tidak lama kami didatangi beberapa peminta dan penyanyi jalanan.

Ada yang beda dan mungkin juga baru pertama kalinya saya mendengar penyanyi jalanan membawakan lagu dengan nyanyian rohani. Bagi kami ini sesuatu yang berbeda dan kami pikir ini suatu bentuk kesaksian bagi para penyanyi jalanan. Kami saling tengok, dan teman saya berkata "Lah ini...", lalu teman saya merogoh koceknya, membuka dompet, dan mengambil doku untuk diberikan.

Menurut kesaksian beberapa teman saya, mereka ada yang pernah juga melihat para penyanyi jalanan menyanyikan lagu rohani di beberapa tempat makan di kota besar. Tidak tanggung-tanggung pendengar memberikan 'penghargaan' yang cukup besar dalam setiap 'konsernya', dan katanya jika ditotal hasil yang didapatkan dalam satu hari hampir sama dengan setengah gaji dari karyawan kantor dalam satu bulan.

Hmmm inikah strategi bisnis baru??? Orang akan lebih tertarik jika yang disampaikan adalah hal-hal yang berkaitan dengan spiritualitas atau paling tidak 'genre' yang disuka?? Atau karena kami orang yang tertarik dengan hal spriritualitas sehingga kami langsung terpesona??? Pastinya mereka tahu 'pasar', tahu apa yang dimau konsumen. Harapan kami mereka tidak hanya 'demi pasar' tetapi membawa kesaksian dalam dirinya.

1 komentar:

Ray mengatakan...

Betul bro, saya malah tidak setuju dengan jurus ngamen yang ini. Lagu rohani dinaikan dengan tujuan memberikan puji-pujian kepada TUHAN dengan talenta yg TUHAN berikan. Aneh rasanya kl kita memberi sesuatu kepada SANG PEMBERI lalu minta upah dari orang lain yg mendengar. apalagi tempatnya tdk layak spt bis-bis dan restaurant. bagaimana mau jadi saksi, yg ada org sibuk makan dari pada mendengar. Sepertinya terasa seperti "menjual" kemuliaan TUHAN gitu loh... Bukannya memuji dengan hati malah memuji TUHAN dengan alasan upah. so sad...