Minggu, 29 Oktober 2017

Satu Jari



Apa rahasia dalam kehidupan ini? Jawabannya hanya dengan mengacungkan satu jari telunjuk. Satu jari. Ya satu jari menggambarkan satu hal. Apa itu? Hanya Anda sendiri yang tahu apa satu hal itu.

Kalimat diatas memulai sedikit tentang pentingnya satu hal yang bisa memberi dampak besar dari apa yang kita kerjakan. Kalau kita memeriksa kembali kehidupan kita, akan ada banyak sekali hal-hal yang akan dilakukan. Saya sendiri memiliki daftar tugas yang banyak. Apakah semua hal itu akan dikerjakan secara acak? Apakah mungkin semuanya akan dikerjakan dalam waktu yang bersamaan. Memang ada banyak hal yang mampu untuk dikerjakan, tapi bukan itu yang penting. Melakukannya berarti sama saja melakukan kesibukan yang tidak memiliki dampak yang besar. Yang paling penting adalah mengerjakan apa yang harus dikerjakan.

Manusia tidak akan mungkin mengerjakan semuanya secara bersamaan. Bagaimana mungkin dua atau lebih pekerjaan dikerjakan dalam sekali waktu. Itu hanya mitos kalau orang bisa  mengerjakan dalam sekali waktu. Pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik hanya kalau dia fokus pada satu hal. Satu hal yang akan memberikan kesuksesan kalau dikerjakan dengan baik, dan itu akan berdampak kepada hal lainnya. Semuanya terjadi secara berurutan, satu keberhasilan berdampak pada keberhasilan yang lain. Satu hal bisa menghasilkan banyak hal.

Ingat prinsip pareto 20/80. Dengan usaha 20 persen akan menghasilkan 80 persen. Bisa juga, dengan fokus 20 persen akan memberikan dampak 80 persen. Tapi itu bukan aturan yang baku, bagian 20 persen bisa dipecah lagi menjadi bagian yang lebih kecil lagi, hingga mendapat satu hal yang paling penting. Banyak hal yang penting, tapi hanya ada satu hal yang paling penting. Dan kita wajib mencari tahu satu hal itu.

Sesuatu yang bisa saya terapkan dalam kehidupan saya adalah menentukan satu hal yang akan dikerjakan dalam waktu satu minggu ini. Apa yang bisa saya hasilkan dalam satu minggu ini. Atau bisa saja dipersempit lagi, dalam satu hari ini apa yang akan saya hasilkan. Misal satu hari ini saya akan fokus membaca satu buku. Berarti segala hal yang mengganggu proses membaca akan disingkirkan. Fokus pada buku itu dan hiraukan yang lain. Singkirkan distraksi seperti HP, komputer, TV, dll.

Satu jari, satu hal. Harus kita sendiri yang mencarinya! Pelajaran berharga bagi saya yang mengalami banyak masalah dengan banyak hal, tugas, tanggung jawab, bahkan informasi. Mengingatkan saya betapa pentingnya memusatkan satu hal untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

Kamis, 12 Januari 2017

Kung Kiong Kongkong



Sore ini...

Air dari langit mengguyur dari atas hingga ke tanah dasar bumi.
Desir angin, lirih menyentuh kulit tipis, mengejut, menarik napas dalam.
Gemuruh terdengar dari atas, bukan atas yang tak terbatas, ditempat yang terbatas, diruang yang beratap bias.
Memekik keras, menulikan alam, melembutkan jiwa yang keras tiada belas.
Suara lain terdengar, gemuruh jadi pecah, membuat komposisi pas, jadi indah.
Nyaring tiada berbanding, syahdu, saling beradu.

Kung kiong kongkong...
Katak bernyanyi..

Sabtu, 24 Desember 2016

Perjalanan?

Tahun ini saya tidak mudik ke Lampung, tempat saya dilahirkan dan kedua orang tua berada. Saya lebih memilih untuk di Jogja saja, dengan harapan bisa menjalin relasi dengan teman-teman kembali dan melakukan hal-hal yang lebih 'menarik'. Seharusnya juga, saya punya banyak waktu untuk bisa menyelesaikan hal-hal yang sempat tertunda. Mengerjakan sesuatu yang sudah diatur-Nya, sesuai rencana-Nya.


Tahun-tahun lalu, menjelang Natal, kira-kira H-2, saya pulang ke kota Metro, Lampung, biasa pulang dengan kendaraan bus antar propinsi antar pulau. Bus jalan biasa, tidak ada orang-orang yang melambaikan tangan hanya untuk meminta sopir membunyikan klakson. Satu tahun yang lalu belum muncul 'om telolet om' yang menjadi viral di Indonesia saat ini :-).

Dari Jogja ke Lampung, waktu tempuh perjalanan dengan bus adalah satu hari. Meskipun lama saya sangat menikmati perjalanan, momen yang tepat untuk 'me time', saya bisa memikirkan banyak hal, mereview hal-hal yang sudah terjadi, mengevaluasi pelayanan sepanjang satu tahun, memikirkan hal-hal yang bisa dilakukan tahun yang akan datang, dan pikiran-pikiran liar lain yang muncul secara tiba-tiba. Tidak ada yang mengganggu saya untuk bisa memunculkan itu semua. Saya juga menikmati gema mesin bus, kadang membuat tidur saya menjadi lebih nyenyak :-). Mengamati gerak gerik pemudik. Menatap jauh ke ujung samudera yang luas, ketika menyeberangi Selat Sunda diatas kapal. Mengharap segera menginjak pulau lain, merasakan hawa khas pulau Sumatra. Mengharap segera bertemu dengan keluarga.

Kali ini saya tidak menyeberang lautan ke pulau seberang, tidak bertemu keluarga di Sumatra, namun saya sudah melakukan perjalanan. Perjalanan bersama tokoh-tokoh yang dipakai Tuhan mengabarkan berita sukacita, orang-orang yang sehati sepikir saling menolong dalam kasih, orang-orang yang mencintai Tuhan, orang-orang yang selalu berjalan bersama Tuhan selama hidupnya, orang-orang yang dengan berani membela kebenaran meskipun harus mengalami penderitaan. 

Merenungkan dan belajar dari kisah para Rasul dan dari sahabat-sahabat, membuat saya bisa melihat arti hidup ini, hidup bukan untuk diri sendiri, tapi ada satu hal yang harus diperjuangkan, adalah kebenaran, dari Tuhan, oleh Tuhan, dan untuk Tuhan. Kisah Para Rasul, kisah orang-orang yang mendedikasikan hidupnya bagi Tuhan, melakukan perjalanan panjang, dari rumah ke rumah, dari kota ke kota, dari pulau ke pulau, dari satu tempat ke tempat lainnya, tiada lelah, penuh sukacita. Kisah Para Rasul, adalah orang-orang biasa yang dipakai Tuhan, saya, Anda, kita semua, adalah orang yang sudah dipilih untuk melakukan perjalanan-Nya. 

Selamat menikmati perjalanan. Selamat mendengar dan mengikuti instruksi-Nya :-)

Sabtu, 26 November 2016

Syukur

Syukur pada-Mu ya Tuhan

Syukur atas kebaikan
Syukur atas kesehatan
Syukur atas makanan
Syukur atas pekerjaan
Syukur atas persahabatan
Syukur atas pelayanan

Hidup dalam keluarga
Ada duka ada suka
Jalani penuh sukacita
Berjalan bersama-Nya

Aku tak tahu masa depan nanti
Tapi aku yakin dengan pasti
Pengalaman dengan-Mu yang tiada terganti
Mengingatkanku kuasa-Mu yang begitu tinggi

Bersatu hati bergandeng tangan
Hidup dalam satu tujuan
Memuji dan memuliakan-Nya
Sepanjang hidup yang sudah diberi-Nya

Syukur pada-Mu ya Tuhan

Sabtu, 27 Agustus 2016

Tidak Pandai Bicara

Pergumulan yang selalu saya alami, bahwa saya tidak pandai bicara. Sudah sejak lama saya menyadari ini, ketika dalam studi di sekolah pun saya mengambil jurusan yang banyak berpikir eksak daripada merangkai kata, ketika SMA ambil jurusan IPA, ketika kuliah mengambil jurusan Teknik Informatika, dan ketika bekerja menjadi programmer. Entah mengapa otak saya tidak secerdas orang lain untuk hal bicara, padahal saya termasuk orang yang suka belajar. Sebenarnya bukan juga masalah bicara tetapi pola pikir, sepertinya otak saya tidak mampu mengatur dengan baik materi-materi yang didapat, untuk disusun kembali menjadi pemikiran diri sendiri, dan kemudian diekspresikan melalui kata-kata. Lebih suka hal-hal praktis daripada teori, makanya lebih baik ada deadline membuat aplikasi/program daripada deadline pengumpulan paper atau ketika harus melakukan presentasi.

Salah satu cara saya menyampaikan ide, dengan cara membuat tulisan seperti ini. Disinipun hanya sekedar pemikiran sederhana yang saya alami, bukan hal-hal ilmiah yang diangkat. Ada tempat yang lain dan saya coba untuk menyampaikan tapi juga kurang berhasil. Dan itu membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk menyusunnya. Kadang frustasi karena tidak bisa menyampaikan hal yang sederhana dengan baik. Tapi paling tidak masih ada semangat untuk terus belajar mengelola pikiran / pengetahuan untuk bisa dibagikan ke orang lain dengan cara yang baik.

Pagi ini, ditengah kegalauan saya karena masalah yang saya sampaikan diatas, saya dikuatkan oleh Firman Tuhan yang saya baca melalui buku renungan dari Santapan Rohani. Sudah lama saya tidak memakai buku renungan ini, sepertinya sejak pertengahan Juli, namun pagi ini saya mengucap syukur membuka renungan ini dan diingatkan tentang masalah yang saya hadapi. Bacaan diambil dari Keluaran 4:1-12, tentang Tuhan mengutus Musa, namun Musa merasa bukan orang yang tepat karena tidak pandai bicara.

Tuhan sudah memberi kuasa mujijat kepada Musa untuk ditunjukkan kepada orang Israel, tongkat menjadi ular (ay 3), tangan menjadi kusta (ay 6), dan air menjadi darah (ay 9). Namun Musa merasa kurang yakin karena tidak pandai bicara sejak dahulu, sehingga meminta Tuhan untuk mengutus orang lain. Tuhan memberi penguatan bahwa Tuhan berkuasa atas mulut, lidah, telinga, mata. Tuhan akan menyertai lidah dan mengajar apa yang harus dikatakan (ay 12).

Tuhan akan memakai pikiran dan mulut untuk bisa mengajarkan tentang kebenaran. Tuhan sendiri yang akan memberi pengertian hal-hal yang akan disampaikan. Hidup sesuai kehendak-Nya salah satu syarat supaya Tuhan berkuasa atas hidup. Tuhan berkuasa atas segalanya, bahkan hal-hal yang dirasa tidak mungkin oleh manusia.

Firman Tuhan kali ini meneguhkan saya untuk semakin mengandalkan Tuhan didalam kelemahan dan keterbatasan saya. Tuhan sudah mengutus, dan saya harus menerima dan melakukannya dengan segenap hati, melakukan dan mengerjakan yang terbaik bagi kemuliaan Tuhan. Bukan pikiran diri sendiri yang disampaikan tetapi pikiran Tuhan yang disampaikan melalui hidup saya.

(Update setelah sharing dengan teman.)
Untuk bisa melakukan dengan baik harus tetap tekun untuk belajar, cara yang sederhana yang bisa dilakukan adalah belajar mengerti pemikiran orang lain dahulu dengan membaca tulisan kemudian mencoba menjelaskan ulang dengan berbicara. Setelah itu bisa disampaikan juga melalui tulisan diri sendiri, paling tidak bisa mengikuti struktur dan pola pikir penulis yang sudah berpengalaman dalam menyampaikan ide. Sehingga yang dilakukan tersebut akan melatih pola pikir, hingga pada akhirnya punya gaya sendiri dalam menyampaikan.

Sabtu, 20 Agustus 2016

Jahit Jeans

Saya punya beberapa celana jeans yang lumayan masih bagus, masih layak dipakai tapi bermasalah dengan resleting. Sayang kalau dibuang hanya karena resleting yang rusak. Daripada membeli baru lebih baik diperbaiki saja, bisa menghemat uang untuk dipakai hal-hal yang lain yang lebih berguna. Paling tidak ini adalah salah satu bentuk menghargai barang yang sudah dipercaya oleh Tuhan, harus merawatnya dengan baik, atau kalau tidak dipakai lebih baik diberikan orang yang membutuhkan. Ini juga cara mengatur uang yang sudah diberi Tuhan, uang harus dipakai dengan benar, karena itu pemberian yang harus bisa dipertanggungjawabkan.

"Vermak Jeans", seringkali saya lihat dipinggir-pinggir jalan atau dengan berkeliling, banyak orang yang menawarkan jasa jahit pakaian. Biasanya orang datang untuk memperbaiki kerusakan/perubahan kecil pada pakaian, kalau ada yang sobek, rusak, mengecilkan/membesarkan, merubah pola pakaian, dll. Sebelumnya saya sudah melihat-lihat tempat yang sekiranya bisa saya kunjungi, dan saya memakai tempat itu untuk memperbaiki. Letaknya ada dipinggir jalan, atap tidak permanen hanya dengan plastik dan tiang bambu saja. Dari hasil pengerjaan lumayan cepat  dan sangat lincah, hasilnya juga bagus. Saya kira tempat yang hanya dipinggir jalan juga tidak kalah baik dengan yang berada di tempat permanen, mereka tidak sembarang mengerjakan, mereka menjaga kualitas dan layanan agar pengunjung puas dan akhirnya datang lagi.

Jadi ingat dahulu ada pelajaran tata busana ketika sekolah. Harus membuat pola pakaian dan menjahit sendiri, dan mengalami kesulitan karena tidak bisa menjahit, dan akhirnya dibantu teman untuk menjahit :-)

Rabu, 17 Agustus 2016

I code u Indonesia!

Hari ini adalah hari kemerdekaan RI yang ke 71. Banyak orang yang merayakan dan mengenang kemerdekaan dengan cara yang beragam, ada acara tirakatan pada malam 17 Agustus, upacara bendera, perlombaan, memasang bendera, atau aktifitas lainnya.

Saya mau mengenang, menanam, dan menumbuhkan rasa cinta Indonesia dengan cara yang berbeda. Lalu saya memikirkan "Apa yang sudah saya berikan ke Indonesia? Bagaimana saya bisa berkontribusi terhadap Indonesia? Apa yang saya bisa dengan kemampuan yang saya miliki?" Lalu akhirnya saya memutuskan untuk memakai ilmu, kemampuan, dan pengalaman saya dalam bidang komputer untuk memberikan kontribusi, wujud cinta saya kepada Indonesia.

Salah satu cara mewujudkannya, hari ini saya membeli domain garuda.my.id. Domain ini saya dedikasikan untuk Indonesia, supaya saya bisa mengingat bahwa Garuda yang adalah simbol nasional negara Indonesia juga menjadi identitas saya sebagai warga Indonesia, serta mengingat dan mengamalkan kelima sila dalam keberagaman hidup berbangsa dan bertanah air. Garuda yang adalah seekor burung yang gagah, energik, dan dinamis juga menjadi contoh dalam menjalani hidup ini, dalam dunia yang terus berubah dapat dengan sigap menghadapi.

Ada beberapa hal lain yang masih saya pikirkan untuk bangsa Indonesia, khususnya dalam mendukung dan mengisi era digital saat ini dalam bidang teknologi. Saya ingin sedikit kemampuan ini, bisa memberi dampak kepada bangsa Indonesia.

Dirgahayu Indonesiaku, I code u!
Tunggu hal-hal lain yang bisa kuberikan padamu :-)