Jumat, 01 Juni 2018

Hanya Kulihat Terangnya

Entah sampai kapan aku akan disini.
Meski sakit, aku tetap bertahan..
Ada bercak darah..
Tapi tidak mencucurkan air mata..
Beberapa saat aku menggigil.. dingin..
Lalu kusentuh kulit.. dingin..
Tulangku.. dingin..
Menyusup sampai lubuk hati.
Hingga rasaku merasa..
Tapi toh sudah biasa akhirnya.
Beberapakali kumelihat gelap..gelap..dan gelap..
Sekelilingku kulihat gelap..
Aku terdesak dengan gelap..
Gelap.. Dan aku hanya bisa bertahan ditempat ini.. gelap..
Ditempat yang kurasa gelap.

Tapi kumelihat ada terang..
Disisi lain kubisa melihat terangnya..
Benar ada terangnya..
Terangnya menyejukkan..
Terangnya meneduhkan
Terangnya memberikan keheningan..
Terangnya menguatkan..
Terangnya memberikan kelegaan..
Dan ternyata aku masih melihat terangnya..
Terangnya bercahaya..
Indah..anggun.. mempesona..
Menyentak..mendebarkan..mengejutkan..
Mencengangkan.. melengungkan.. menakjubkan..

Ah indahnya rembulan saat ini..
Gigitan nyamuk tidak akan mengusik keindahanmu..
Semribit angin tak mengalahkan pukaumu..
Gelapnya tidak menggantikanmu hingga kapanpun..
:-)




Selasa, 29 Mei 2018

Berlatih Piano, Senam Jari


Saya bukanlah orang yang memiliki kepandaian istimewa dalam bermusik. Meskipun saya bisa juga memainkan beberapa alat musik, untuk diri sendiri. Kadang terdengar fals, tidak sesuai tempo, dan sering berpatok pada teks :-). Yah..paling tidak, saya menikmatinya. Saya tahu sedikit rumus matematis kunci/nada untuk beberapa alat musik, tahu solmisasinya. Dan yang paling penting saya tahu (alat) musik menjadi salah satu sarana untuk mengungkapkan isi hati kepada Tuhan, menjalin relasi dan berkomunikasi dengan Sang Pemberi Hidup, merefleksikan cinta kasih-Nya.

Tidak semua orang memiliki kemampuan bermain alat musik yang baik, tentu saja orang-orang yang berbakat dan yang tekun berlatih yang akan bisa bermain musik dengan baik. Namun demikian dengan sedikit potensi yang saya miliki, saya mencoba untuk belajar alat musik baru. Mungkin kalau diukur tidak ada satu talenta, tapi saya mau belajar sesuatu yang baru, supaya talenta yang sangat sedikit itu bisa dimaksimalkan. Bisa mengagungkan dan memuliakan Tuhan dengan lebih baik.

Piano, itulah alat musik yang baru sekitar satu bulan saya pelajari. Alat musik yang sering saya dengar minimal tiga kali dalam seminggu. Kombinasi nadanya menggugah saya untuk bisa juga memainkannya.

Saya mencari sumber informasi melalui media online, tutorial dan panduan praktis yang bisa langsung saya aplikasikan, lebih mudah karena tidak harus mendatangkan orang untuk mengajar. Piano sudah siap digunakan, meskipun bukan milik sendiri  :-), jadi saya pun harus bertanggung jawab menggunakan alat ini.

Saat mulai belajar, saya tidak terlalu banyak mencari informasi tentang kombinasi chord. Saya sudah punya pengetahuan dasar solmisasinya. Saya cukup tahu saja beberapa chord yang sering digunakan. Yang saya lakukan adalah melatih jari-jari supaya lebih luwes ketika menekan tuts. Jadi banyak berlatih senam jari dengan beberapa cara dan kombinasi nada, setahap demi setahap, mulai dengan yang paling mudah, dan terus menerus diulang.

Dengan berlatih senam jari, saya sudah bisa mendengar nada yang indah, dan itu adalah sesuatu yang membahagiakan.

Melakukan senam jari bukanlah hal yang mudah. Dalam tutorial yang saya gunakan, untuk memainkan piano tidak boleh sembarang menekan tuts. Semua jari harus digunakan. Jari-jari terasa pegal  ketika mengulang beberapa nada. Menyelesaikan dalam satu atau dua oktaf, dari nada rendah ketinggi maupun sebaliknya.

Tuts piano harus bisa dimainkan dengan rileks, dengan santai, dan dinikmati.

Jadi teringat dulu pernah berlatih mengetik mesin ketik menggunakan sepuluh jari. Betapa pegal dan sakit jari ini, karena harus menekan tombol huruf di mesin ketik menggunakan jari yang tepat. Terlebih lagi saat giliran si jari kelingking menekan, jari yang paling lemah, jari seorang anak mungil yang baru duduk di Sekolah Dasar :-). Perlu diketahui menekan tombol mesin ketik itu memerlukan tenaga, tidak seperti keyboard komputer saat ini.
Karena tekun berlatih, pada akhirnya bisa lancar juga untuk bisa mengetik dengan sepuluh jari, dan kemampuan ini masih bisa dipakai hingga saat ini.

Oke..

Berlatih senam jari, menolong untuk jari-jari terbiasa menekan tuts dengan tepat dan benar. Tentu saya masalahnya sama, tidak mudah memakai semua jari untuk menekan. Itu terasa sekali saat diawal mulai berlatih. Bersyukur setelah beberapa kali latihan tangan ini sudah lumayan terbiasa menekan tuts piano dan lebih rileks.

Masih banyak pelajaran yang harus saya ikuti. Saat ini saya tidak terlalu tergesa-gesa untuk bisa melakukannya dengan cepat. Saya tahu kemampuan saya, terlebih insting bermusik saya hanya biasa-biasa saja. Saya harus belajar dalam setiap prosesnya. Bahwa segala sesuatu tidak dapat dilakukan secara instan, semuanya harus melalui tingkatan yang berbeda, setahap demi setahap.

Jadi yang perlu saya lakukan saat ini adalah tekun berlatih.

Dan pada akhirnya segala sesuatu yang saya lakukan adalah hanya untuk hormat dan kemuliaan nama-Nya.

Selamat berlatih :-)

Sabtu, 19 Mei 2018

Hukum Pareto di Handphone


Perkembangan teknologi sangat maju dengan cepat sekali, baik dari sisi hardware maupun software, khususnya perkembangan mobile phone. Handphone sudah tidak asing lagi bagi masyarakat dunia. Setiap harinya mereka hampir berinteraksi dengan perangkat ini, terlebih anak kecil, yang sudah dianggap sebagai generasi digital native, dengan sangat mudahnya berinteraksi dengan perangkat ini.

Handphone atau smartphone adalah perangkat bergerak yang selalu dibawa kemana-mana. Perangkat ini bukanlah perangkat biasa yang hanya mampu untuk menelpon, kirim pesan, memfoto, rekam video, atau berselancar di internet tapi lebih daripada itu. Bahkan perkembangan hingga saat ini, perangkat ini mampu bertindak secara cerdas sesuai apa yang diinginkan user, seperti perkembangan Google Assistant yang baru diumumkan oleh Google saat event Google I/O tahun ini. Mereka mengumumkan perkembangan teknologi yang sangat canggih dan cerdas, salah satunya Duplex, asisten yang bisa menelpon dan memesan ke penyedia layanan contohnya memesan tempat/makanan di restoran, asisten mampu berdialog layaknya manusia.

Smartphone yang memiliki perangkat dengan ukuran kecil dan bisa dibawa kemana-mana ini juga memiliki kemampuan yang hampir sama dengan perangkat desktop. Perkembangan hardware juga mengalami kemajuan, sehingga developer software dapat dengan mudah mengembangkan aplikasi dengan berbagai fitur yang ditawarkan. Bahkan dengan perangkat kecil ini dapat menggantikan pekerjaan untuk sementara waktu ketika tidak membawa perangkat desktop. Lebih dari itu, perangkat ini juga mampu membuat aplikasi menggunakan aplikasi IDE/builder yang tersedia di Apps/Play Store. Artinya perangkat kecil ini sebenarnya memberikan peluang untuk berkarya dan berkreatifitas di waktu dan tempat yang tidak dibatasi.

Nah.. dengan kemampuan yang luar biasa seperti ini, apakah pengguna hand(smart)phone juga smart dalam menggunakannya. Karena sebagian besar orang yang saya amati, mereka memiliki perangkat yang sangat canggih, tapi hanya bisa memanfaatkan 20% dari kecanggihannya, dan 80% mereka tidak menggunakannya, bahkan tidak mengetahui fungsi dan fitur yang ada. Banyak juga yang memakai perangkat handphone hanya untuk satu kebutuhan paling penting, contoh saja hanya untuk berselfie, tetapi mereka memiliki perangkat dengan spesifikasi hardware yang tinggi.

Tapi tentu saja ada orang yang menggunakan 80% dari fungsi atau fitur perangkat tersebut, dan tentu jumlah pengguna juga sedikit, hanya 20% saja. Mereka bisa memanfaatkan perangkat ini dengan maksimal. Perangkat ini bisa dipakai untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

Jadi, silakan mengeksplorasi kemampuan perangkat ini, gunakan smartphone dengan smart. Smartphone adalah salah satu cara yang dapat menolong kita untuk bertumbuh, mendapat banyak informasi dan pengetahuan, meningkatkan produktifitas kita dalam bekerja, berkarya, berkreatifitas, berelasi, berkontemplasi.

Sabtu, 12 Mei 2018

Naik Pramex Lagi

Sudah lama sekali saya tidak melakukan perjalanan pendek dari Solo ke Jogja atau sebaliknya menggunakan transportasi umum kereta pramex (Prambanan Express). Kali ini saya mencoba kembali merasakan perjalanan menggunakan pramex. Kalau 'dulu-dulu' untuk membeli tiket tidak perlu mengantri panjang dan tidak dibatasi waktu, sekarang antrian cukup panjang dan batas pembelian waktu pembelian tiket adalah tiga jam sebelum jadwal keberangkatan, serta kuota yang diberikan (saya bertanya pada petugas) adalah dua ratus lima puluh penumpang. Sebenarnya ini menandakan kemajuan transportasi kereta di Indonesia, banyak orang yang lebih suka menggunakan kereta sebagai alat transportasi umum dibanding transportasi darat lain. Terbukti sudah sejak beberapa tahun terakhir sistem transportasi kereta banyak dilakukan pembaharuan.

Oke.. sekarang kembali lagi, untuk mengobati kerinduan saya naik kereta pramex, saya hari ini rela antri untuk mendapat tiket. Saya datang jam 8.40, Dan ternyata baru dapat tiket untuk jam 13.05, karena untuk jam 9.10, dan 10.40 sudah habis, saat itu sebenarnya saya mengantri untuk jam keberangkatan 12.15. Tapi sudahlah saya tetap ambil yang jam 13.05, meskipun sempat tanya juga kereta (eksekutif) lain yang ke Jogja, namun harganya cukup mahal, Argowilis dengan jam keberangkatan 10.30 harganya hampir dua belas kali lipat dari harga pramex 100rb, sedangkan pramex hanya 8rb rupiah, ada lagi kereta Sancaka dengan harga 40rb namun jam keberangkatan tidak berbeda jauh dengan jam pramex.

O ya saya juga mengamati pak petugas (satpam) yang mengatur antrian. Bapak itu cukup ramah, bisa berkomunikasi baik dengan para calon penumpang, menjawab setiap pertanyaan dengan baik, mengatur para pengantri sehingga tetap dalam barisan yang benar.

Btw, kalau saya ingat delapan tahun yang lalu, tahun 2010 di bulan Mei, adalah pertama saya menetapkan untuk tinggal di Solo, dan saat itu perjalanan ke Solo menggunakan kereta pramex. Paling tidak, hari ini saya jadikan peringatan, bahwa saat itu saya mau mengambil keputusan, menetapkan diri untuk berkarya (bagi Tuhan) di kota Solo.

Nah masih punya waktu cukup lama, saya gunakan untuk membaca buku dan menulis blog ini, bersyukur punya waktu 'me time' untuk tidak terdistraksi dengan hal-hal lain, bisa fokus dengan beberapa hal sembari menunggu perjalanan keberangkatan kereta pramex menuju Jogja. Tuhan beri kesempatan yang tak terduga supaya anak-Nya bisa tetap bertumbuh dan belajar dalam banyak cara.

Selamat menikmati perjalanan.





Selasa, 08 Mei 2018

Gunakan Waktu

Gunakan waktu yang dibrikan Tuhan
waktu tlah berlalu dengan cepat
Apa yang ada di dunia sekarang
yang nanti takkan dibawa pulang
Reff:
Tiada yang tetap, tiada yang tetap
semua yang indahpun akan lenyap
Hanya kasih Tuhan yang takkan hilang
tinggal tetap meski kita pulang

Lirik lagu diatas mengingatkan saya kembali untuk mengisi waktu-waktu yang ada dengan baik, dan bertanggung jawab. Waktu berlalu dengan begitu cepatnya, tak terasa hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. "Hal-hal apa saja yang akan dilakukan hari hari?" Setidaknya ini menjadi pertanyaan reflektif yang perlu ditanyakan setiap hari, setiap pagi sebelum beraktifitas.

Mengisi waktu dengan sesuatu yang berguna, bermakna, berdampak sudah tentu menjadi tujuan hidup ini. Hidup bukan untuk diri sendiri, tapi untuk orang lain, hidup bukan hanya tentang dunia yang fana ini, tapi kekekalan. Hidup harus menjadi garam dan terang dunia, memancarkan kasih Allah yang sejati yang direfleksikan dalam hidup sehari-hari. Berkarya dalam setiap kesempatan untuk hormat dan kemuliaan-Nya.

Pertanyaan refleksi hari ini, "Apa yang akan/sudah engkau perbuat untuk mengisi waktu hari ini?".


Minggu, 06 Mei 2018

Makan Gule Kepala Ikan

Hari ini setelah pulang kebaktian,saya pergi sebentar ke Toko Buku Gramedia untuk sejenak mencari inspirasi dengan membaca buku-buku yang dipajang, paling tidak bisa punya ide untuk mengisi blog ini :-)

Saat hampir selesai, saya merasa lapar, karena saat itu sudah jam duabelas kurang dikit, waktunya untuk makan siang. Saya ingat dengan salah satu tempat makan yang menyajikan ikan sebagai masakannya, "Gule Kepala Ikan", jadi saya kesana karena tempatnya tidak jauh juga dengan toko buku.

Awalnya saya kira yang disajikan hanya kepala ikan saja, tetapi ternyata ada tulang ikan yang sudah di fillet (diambil dagingnya). Tapi ditulangnya masih ada sedikit daging yang cukup untuk bisa dimakan dengan satu atau dua piring nasi. Dengan bumbu gule yang tidak terlalu kental dengan santan (atau mungkin tanpa santan), membuat saya bisa menikmati satu piring ikan besar tanpa merasa eneg. Sayuran dan sambal menjadi menu pelengkap santapan siang ini. Makan siang yang bergizi karena ikan mengandung omega 3 yang baik untuk tubuh.

Saya suka ikan sejak kecil, ibu biasa membeli ikan di pasar atau beli di tukang sayur yang lewat. Sehingga ikan menjadi salah satu masakan favorit bagi keluarga saya.
Selain itu saya juga suka memelihara ikan, saat ini hanya ikan hias kecil yang menghias kamar dan seputarnya, suatu saat nanti ingin juga memelihara ikan di kolam yang cukup besar sehingga bisa mengkonsumsi ikan kapan saja :-)

Terima kasih Tuhan untuk makanan hari ini..



Minggu, 29 Oktober 2017

Satu Jari



Apa rahasia dalam kehidupan ini? Jawabannya hanya dengan mengacungkan satu jari telunjuk. Satu jari. Ya satu jari menggambarkan satu hal. Apa itu? Hanya Anda sendiri yang tahu apa satu hal itu.

Kalimat diatas memulai sedikit tentang pentingnya satu hal yang bisa memberi dampak besar dari apa yang kita kerjakan. Kalau kita memeriksa kembali kehidupan kita, akan ada banyak sekali hal-hal yang akan dilakukan. Saya sendiri memiliki daftar tugas yang banyak. Apakah semua hal itu akan dikerjakan secara acak? Apakah mungkin semuanya akan dikerjakan dalam waktu yang bersamaan. Memang ada banyak hal yang mampu untuk dikerjakan, tapi bukan itu yang penting. Melakukannya berarti sama saja melakukan kesibukan yang tidak memiliki dampak yang besar. Yang paling penting adalah mengerjakan apa yang harus dikerjakan.

Manusia tidak akan mungkin mengerjakan semuanya secara bersamaan. Bagaimana mungkin dua atau lebih pekerjaan dikerjakan dalam sekali waktu. Itu hanya mitos kalau orang bisa  mengerjakan dalam sekali waktu. Pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik hanya kalau dia fokus pada satu hal. Satu hal yang akan memberikan kesuksesan kalau dikerjakan dengan baik, dan itu akan berdampak kepada hal lainnya. Semuanya terjadi secara berurutan, satu keberhasilan berdampak pada keberhasilan yang lain. Satu hal bisa menghasilkan banyak hal.

Ingat prinsip pareto 20/80. Dengan usaha 20 persen akan menghasilkan 80 persen. Bisa juga, dengan fokus 20 persen akan memberikan dampak 80 persen. Tapi itu bukan aturan yang baku, bagian 20 persen bisa dipecah lagi menjadi bagian yang lebih kecil lagi, hingga mendapat satu hal yang paling penting. Banyak hal yang penting, tapi hanya ada satu hal yang paling penting. Dan kita wajib mencari tahu satu hal itu.

Sesuatu yang bisa saya terapkan dalam kehidupan saya adalah menentukan satu hal yang akan dikerjakan dalam waktu satu minggu ini. Apa yang bisa saya hasilkan dalam satu minggu ini. Atau bisa saja dipersempit lagi, dalam satu hari ini apa yang akan saya hasilkan. Misal satu hari ini saya akan fokus membaca satu buku. Berarti segala hal yang mengganggu proses membaca akan disingkirkan. Fokus pada buku itu dan hiraukan yang lain. Singkirkan distraksi seperti HP, komputer, TV, dll.

Satu jari, satu hal. Harus kita sendiri yang mencarinya! Pelajaran berharga bagi saya yang mengalami banyak masalah dengan banyak hal, tugas, tanggung jawab, bahkan informasi. Mengingatkan saya betapa pentingnya memusatkan satu hal untuk mendapatkan hasil yang terbaik.